Senin, 07 September 2015

2 Tentang Penciptaan Matahari, Ukuran Matahari dan Matahari Mengelilingi Bumi

Sebuah hadits yang panjang yang mengisahkan tentang penciptaan matahari, ukuran wujud matahari, dan tentang peredaran matahari mengelilingi bumi. Silahkan dibaca haditsnya dengan teliti:

Dikisahkan bahwa suatu hari Rasul Allah berkata kepada ‘Aisyah: “Sesungguhnya ketika Allah menciptakan matahari, Dia menciptakannya dari mutiara putih dengan ukuran 140 kali ukuran bumi, dan meletakkannya di atas roda (‘ajalah). Roda ini memiliki 860 tali pengikat (‘urwah) dan pada setiap tali itu terdapat rantai dari yaqut merah. Allah memerintahkan 60.000 Malaikat Muqorrobin untuk menarik matahari dengan rantai-rantainya itu, sedangkan mereka telah diberi kekuatan khusus oleh Allah untuk itu. Matahari pun, bak falak di atas roda tersebut, bergerak mengitari qubbatul khodlro (kubah hijau), dan keindahannya tampak bagi penduduk bumi. Setiap harinya matahari itu berhenti di atas khatulistiwa di atas Ka’bah, karena ia adalah pusat bumi, dan berkata: ‘Wahai para malaikat Tuhanku, sesungguhnya setiap kali sampai ke tempat yang sejajar dengan Ka’bah yang merupakan kiblat mukminin ini, aku malu kepada Allah -‘Azza wa Jalla- untuk melewatinya.’ Para malaikat mengerahkan segenap kekuatannya untuk menarik matahari, tapi tetap saja tidak mampu. Kemudian Allah -Ta’ala- mewahyukan kepada para malaikat dengan wahyu ilham, maka para malaikat menyeru: ‘Hai matahari, dengan kehormatan lelaki yang namanya terukir di atas wajahmu yang bercahaya, kembalilah ke jalur perjalananmu sebelum ini.’ Ketika mendengar itu, maka bergeraklah matahari dengan kekuatan Al-Maalik (Sang Pemilik, yaitu Allah swt)”. ‘Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah lelaki yang namanya terukir di Matahari?” Rasulullah menjawab: “Dia itu adalah Abu Bakar As-Shiddiq, wahai ‘Aisyah. Sebelum menciptakan alam semesta, Allah telah mengetahui dengan ilmu-Nya yang qadim, bahwa Dia akan menciptakan udara, dan akan menciptakan langit di atas udara tersebut, dan akan menciptakan laut dari air, dan akan menciptakan roda diatasnya sebagai kendaraan bagi matahari yang menyinari dunia; dan bahwa matahari akan mogok dan melawan kekuatan para malaikat (yang menariknya) setiap kali melewati khatulistiwa. Allah juga telah menetapkan untuk menciptakan seorang Nabi di akhir zaman yang melebihi keutamaan para Nabi lain. Dia itu adalah suamimu, hai ‘Aisyah, meskipun para musuh membenci hal itu. Dan Allah mengukir pada wajah matahari nama menterinya, yaitu Abu Bakar Shiddiiqul Musthafa. Maka jika para malaikat bersumpah dengannya, matahari pun akan bergerak (melewati khatulistiwa) dan kembali ke jalur perjalanannya, dengan kekuatan Al-Maula. Demikian pula jika seorang ummatku yang berdosa lewat di atas neraka jahannam dan api neraka akan melahapnya, maka berkat kecintaannya kepada Allah di dalam hatinya dan terukirnya nama-Nya di lidahnya, api tersebut akan surut mundur ke belakang, dan mencari orang lain”.

(Hadits ini diriwayahkan di dalam Kitab “Umdatu At-Tahqiiq Fii Basyaairi Aali As-Shiddiiq”, Halaman 183, pada catatan pinggir kitab Roudlu Ar-Royaahin, tulisan Al-Yaafi’iy, cetakan Mesir tahun 1315).

Subhanallah. Mahasuci Allah. Betapa mulianya Abu Bakar As-Shiddiq itu sampai-sampai namanya dicatat di matahari. Subhanallah Maha Suci Allah.

Mungkin diantara Antum sekalian ada yang kurang (atau bahkan tidak) mengerti maksud dari hadits diatas secara benar. Baiklah sekarang akan ana jelaskan dengan seizin Allah Tabaraka wa Ta’alla:

“Sesungguhnya ketika Allah menciptakan matahari, Dia menciptakannya dari mutiara putih dengan ukuran 140 kali ukuran bumi” = Allah menciptakan matahari dari mutiara putih. Pada dalil ini, ana kurang bisa mengartikan maksud kalimat “dengan ukuran 140 kali ukuran bumi”, apakah yang lebih besar daripada bumi itu mataharinya ataukah memang mutiara putihnya?!. Ada dua kemungkinan, jikalau memang:
1] jikalau memang mataharinya lebih besar daripada bumi, berarti wujud matahari lebih besar 140 kali lipat dari wujud bumi.
2] tapi jikalau memang hanya mutiara putihnya saja yang lebih besar daripada bumi, berarti sebenarnya wujud matahari lebih kecil daripada wujud bumi. Dan tentunya ukuran bumi lebih besar daripada ukuran matahari.

“Dan meletakkannya di atas roda (‘ajalah). Roda ini memiliki 860 tali pengikat (‘urwah) dan pada setiap tali itu terdapat rantai dari yaqut merah. Allah memerintahkan 60.000 Malaikat Muqorrobin untuk menarik matahari dengan rantai-rantainya itu” = Allah telah menciptakan banyak sekali malaikat-malaikat yang selalu tunduk patuh kepada-Nya. Diantara malaikat yang Allah ciptakan adalah Malaikat Muqorrobin yang bertugas untuk menarik matahari di atas sebuah roda. Roda adalah kendaraan bagi matahari untuk mengelilingi bumi setiap hari. Roda tersebut memiliki 860 tali rantai berwarna merah yang selalu ditarik oleh 60.000 Malaikat Muqorrobin.

“Allah memerintahkan 60.000 Malaikat Muqorrobin untuk menarik matahari dengan rantai-rantainya itu, sedangkan mereka telah diberi kekuatan khusus oleh Allah untuk itu” = Pada dalil ini menyatakan bahwasanya matahari itu mengelilingi bumi. Namun matahari mengelilingi bumi tidaklah sendirian, namun dia ditemani oleh 60.000 Malaikat Muqorrobin yang setiap harinya bertugas menarik matahari yang bertujuan untuk mengelilingi bumi dengan sinarnya.

“Matahari pun, bak falak di atas roda tersebut, bergerak mengitari qubbatul khodlro (kubah hijau)” = Matahari mengelilingi Kubah Hijau (Qubbatul Khodlro). Wallahu a’lam. Ana sungguh tidak tahu apa yang dimaksud Qubbatul Khodlro dalam hadits ini. Entah itu ‘alam ghaib, entah itu ‘alam langit, entah itu atmosfer bumi, ataukah mungkin pepohon hijau, Wallahu a’lam. Hanya Allah-lah yang tau apa itu Qubbatul Khodlro.

“Dan keindahannya tampak bagi penduduk bumi. Setiap harinya matahari itu berhenti di atas khatulistiwa di atas Ka’bah, karena ia adalah pusat bumi” = Pada dalil ini menyatakan bahwa matahari itu indah dan keindahan matahari terlihat oleh para penduduk bumi. Matahari itu setiap hari selalu mengelilingi bumi, namun dia suka berhenti dulu tepat di atas Khatulistiwa yakni di atas Ka’bah, Mekkah Al-Mukarromah. Matahari berhenti beredar di atas Ka’bah karena matahari tahu bahwa Ka’bah adalah pusat bumi.

“Dan berkata: Wahai para malaikat Tuhanku, sesungguhnya setiap kali sampai ke tempat yang sejajar dengan Ka’bah yang merupakan kiblat mukminin ini, aku malu kepada Allah -‘Azza wa Jalla- untuk melewatinya.” = Ini adalah dalil bahwa matahari bisa berbicara, kepada siapa? Yakni kepada para Malaikat Muqorrobin yang bertugas menarik matahari di atas roda. Matahari yang sedang berjalan di langit, sengaja dia mogok dulu ketika dia melihat Ka’bah tepat di bawahnya. Makanya matahari curhat kepada para Malaikat Muqorrobin supaya dia mogok dan belum mau melanjutkan perjalanannya, karena dia merasa malu kepada Allah ketika dia melewati Ka’bah, Mekkah Al-Mukarromah.

“Para malaikat mengerahkan segenap kekuatannya untuk menarik matahari, tapi tetap saja tidak mampu” = Walaupun malaikat Muqorrobin itu berjumlah 60.000 orang, namun mereka semua kewalahan dan sama sekali tak mampu menarik matahari yang mogok ketika melewati Ka’bah, Baitullah. Mungkin dengan adanya dalil ini, ini mengindikasikan bahwa ukuran wujud matahari memang lebih kecil daripada ukuran wujud bumi, kenapa? Dengan matahari mengelilingi bumi, berarti matahari harus lebih kecil daripada bumi.

“Para malaikat mengerahkan segenap kekuatannya untuk menarik matahari, tapi tetap saja tidak mampu. Kemudian Allah Ta’alla mewahyukan kepada para malaikat dengan wahyu ilham, maka para malaikat menyeru: ‘Hai matahari, dengan kehormatan lelaki yang namanya terukir di atas wajahmu yang bercahaya, kembalilah ke jalur perjalananmu sebelum ini.’ Ketika mendengar itu, maka bergeraklah matahari dengan kekuatan Al-Maalik (Sang Pemilik, yaitu Allah swt)”. ‘Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah lelaki yang namanya terukir di Matahari?” Rasulullah menjawab: “Dia itu adalah Abu Bakar As-Shiddiq, wahai ‘Aisyah” = Walaupun Malaikat Muqorrobin itu berjumlah 60.000 orang, namun mereka semua kewalahan dan sama sekali tak mampu menarik matahari yang mogok ketika melewati Ka’bah, Baitullah. Namun dengan seketika Allah mengirimkan wahyu ilham (Revelation Inspiration) kepada Malaikat Muqorrobin itu. Malaikat Muqorrobin berkata: “Hai matahari, dengan kehormatan lelaki yang namanya terukir di atas wajahmu yang bercahaya (Abu Bakar As-Siddiq), kembalilah ke jalur perjalananmu sebelum ini”, nah setelah diperintah, barulah matahari kembali beredar untuk mengelilingi bumi kembali dengan diiringi kekuatan Al-Maalik (Allah SWT). Didalam dalil ini menyatakan bahwa Khalifah Abu Bakar Siddiq RA benar-benar seorang yang mulia, sampai-sampai nama Abu Bakar Siddiq pun tertulis di matahari. Serta di dalam dalil ini pun menyatakan bahwa perkataan “Hai matahari, dengan kehormatan lelaki yang namanya terukir di atas wajahmu yang bercahaya (Abu Bakar As-Siddiq), kembalilah ke jalur perjalananmu sebelum ini”, ini menyatakan bahwa perkataan malaikat tersebut adalah kode/password/kata sandi untuk memerintahkan matahari supaya matahari kembali beredar di tempat peredarannya. Sungguh betapa mulianya Khalifah Abu Bakar Siddiq itu, sampai-sampai namanya dijadikan kode untuk menyuruh matahari beredar, dan nama Abu Bakar Siddiq pun ditulis di matahari. Subhanallah!, Mahasuci Allah!, Allahu Akbar!, Allah Maha Besar!

“Sebelum menciptakan alam semesta, Allah telah mengetahui dengan ilmu-Nya yang qadim, bahwa Dia akan menciptakan udara, dan akan menciptakan langit di atas udara tersebut, dan akan menciptakan laut dari air, dan akan menciptakan roda diatasnya sebagai kendaraan bagi matahari yang menyinari dunia; dan bahwa matahari akan mogok dan melawan kekuatan para malaikat (yang menariknya) setiap kali melewati khatulistiwa.” = Didalam dalil ini menerangkan bahwa ilmu Allah itu qadim. Sebelum adanya alam semesta, Allah sudah duluan ada. Allah pun Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Allah menciptakan langit di atas udara. Dan Allah menciptakan laut dari air, serta menciptakan roda di atas roda. Roda tersebut Allah ciptakan sebagai kendaraan bagi matahari untuk menyinari muka bumi ini. Jadi simpelnya adalah, roda matahari itu berada di atas laut. Matahari selalu mengelilingi bumi di setiap harinya, namun ketika dia melewati Ka’bah, maka dia mogok dulu yang bertujuan untuk menghormati Ka’bah, Baitullah. Lalu para malaikat memaksa menariknya kembali dan barulah kembali beredar setelah matahari mendengar sumpah atas nama Abu Bakar Siddiq sebagai kodenya itu.

“Allah juga telah menetapkan untuk menciptakan seorang Nabi di akhir zaman yang melebihi keutamaan para Nabi lain. Dia itu adalah suamimu, hai ‘Aisyah, meskipun para musuh membenci hal itu” = Dalil ini menegaskan bahwa Allah telah menetapkan bahwa Muhammad bin ‘Abdullah adalah nabi akhir zaman yang keutamaannya melebihi para nabi dan rasul yang lain. Dalil ini pun menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki banyak musuh (orang kafir / orang non Muslim), dan kebanyakan musuh-musuh Beliau SAW adalah orang-orang yang sangat benci kepada kenabian Beliau SAW.

“Dan Allah mengukir pada wajah matahari nama menterinya, yaitu Abu Bakar Shiddiiqul Musthafa. Maka jika para malaikat bersumpah dengannya, matahari pun akan bergerak (melewati khatulistiwa) dan kembali ke jalur perjalanannya, dengan kekuatan Al-Maula” = Subhanallah!, Maha Suci Allah!. Rupanya matahari memiliki mentri, dan mentri matahari adalah Abu Bakar Siddiq -radhiyallahu ‘anhuma-. Sangat masuk akal jika matahari selalu menuruti perintah Malaikat Muqorrobin ketika para malaikat itu bersumpah atas nama Khalifah Abu Bakar Siddiq -Radhiyallahu ‘anhuma-, karena memang Abu Bakar Siddiq adalah mentri matahari.

“Demikian pula jika seorang ummatku yang berdosa lewat di atas neraka jahannam dan api neraka akan melahapnya, maka berkat kecintaannya kepada Allah di dalam hatinya dan terukirnya nama-Nya di lidahnya, api tersebut akan surut mundur ke belakang, dan mencari orang lain” = Ketika manusia akan ditentukan masuk neraka atau tidaknya, orang-orang Muslim yang selama hidupnya memiliki dosa, mereka akan diselamatkan dan diampuni dosa meraka jika memang di dalam hatinya dan di lisannya selalu mencintai Allah, Tuhan semesta ‘alam.

Subhaana Robbika, Robbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun, wa salaamun ‘alal mursaliin, wal hamdulillaahi Robbil ‘alamiin.

RODA MATAHARI ADANYA DI ATAS LAUT
MATAHARI MENGELILINGI BUMI
  
MATAHARI SELALU BEREDAR MENGELILINGI BUMI DENGAN MEMAKAI RODANYA SAMBIL DITARIK-TARIK OLEH 60.000 PARA MALAIKAT MUQORROBIN
MATAHARI TERBENAM KE DALAM LUMPUR HITAM (QS AL-KAHFI: 86)
MATAHARI MENGELILINGI BUMI
MATAHARI SUKA MOGOK DAN DIA TIDAK BEREDAR MENGELILINGI BUMI KETIKA DIA MELEWATI KA’BAH, BAITULLAH
Selamat merenungkan keajaiban hadits diatas.
Apabila Antum sekalian sudah selesai untuk merenungkan hadits di atas, silahkan untuk melihat foto-foto luar angkasa beserta nash-nash (teks-teks) ayat Qur’an dan hadits shahih)


Penjelasan Qubbatul Khodlro (Kubah Hijau)

Disini ana akan menjelaskan tentang tafsir (penjelasan) yang dimaksud dengan Qubbatul Khodlro (Kubah Hijau) yang terdapat pada dalil hadits diatas. Apa yang dimaksud dengan Qubbatul Khodlro (Kubah Hijau) pada hadits diatas? Silahkan simak baik-baik!

Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wasalam- bersabda: “….. Allah memerintahkan 60.000 Malaikat Muqorrobin untuk menarik matahari dengan rantai-rantainya itu, sedangkan mereka telah diberi kekuatan khusus oleh Allah untuk itu. Matahari pun, bak falak di atas roda tersebut, bergerak mengitari Qubbatul Khodlro (Kubah Hijau). Dan keindahannya tampak bagi penduduk bumi. Setiap harinya matahari itu berhenti di atas khatulistiwa di atas Ka’bah, karena ia adalah pusat bumi. …..”. (Kitab Umdatu At-Tahqiiq Fii Basyaairi Aali As-Shiddiiq).

Apa yang dimaksud dengan Qubbatul Khodlro (Kubah Hijau)?…

Yaa akhi /yaa ukhti, ketahuilah, menurut ajaran agama Islam, di ufuk langit (Ufuk/Horizon /Horison /Cakrawala/Kaki Langit), terdapat sebuah Qubbatul Khodlro (Kubah Hijau). Dalam hadits-hadits shahih menyiratkan, bahwa Qubbatul Khodlro (Kubah Hijau) ini adalah sebuah tikar atau sebuah karpet (permadani) yang berwarna hijau yang telah menutupi bagian ufuk langit (bagian horison).

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
{ لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى }
قَالَ رَأَى رَفْرَفًا أَخْضَرَ قَدْ سَدَّ الْأُفُقَ

Telah menceritakan kepada kami Qabishah; Telah menceritakan kepada kami Sufyan; dari Al-A’masy; dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah -Radliallahu ‘anhu- mengenai firman Allah: “Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”, (QS An-Najm: 18)”. Maka Abdullah berkata: “Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihat karpet berwarna hijau telah menutupi bagian ufuk”. (Kitab Shahih Bukhari: nomor 4480).

Hadits tersebut adalah tafsir QS An-Najm: 18. Dalam hadits tersebut menyiratkan bahwa Qubbatul Khodlro (Kubah Hijau) tersebut adalah karpet hijau yang membentang di ufuk (horison). Karpet tersebut adalah berbentuk tikar berwarna hijau.
Dan ‘ufuk’ yang dimaksud adalah ufuk langit.

 حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
{ لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى }
قَالَ رَأَى رَفْرَفًا أَخْضَرَ سَدَّ أُفُقَ السَّمَاءِ

Telah bercerita kepada kami Hafsh bin ‘Umar; Telah bercerita kepada kami Syu’bah; dari Al-A’masy; dari Ibrahim; dari ‘Alqamah; dari ‘Abdullah -radliallahu ‘anhu- tentang firman Allah Ta’ala pada QS An-Najm ayat 18 yang artinya (“Sungguh dia (Nabi Muhammad) telah melihat sebagian dari tanda-tanda kekuaaan Rabbnya yang paling besar”), maka dia berkata: “Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihat tikar berwarna hijau menutupi ufuk langit!” (Maksudnya adalah Malaikat Jibril -‘Alaihissalam- membuka sayapnya sehingga menutupi ufuk langit). (Kitab Shahih Bukhari: nomor 2994).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ أَنْبَأَنَا الْقَاسِمُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ وَلَكِنْ قَدْ رَأَى جِبْرِيلَ فِي صُورَتِهِ وَخَلْقُهُ سَادٌّ مَا بَيْنَ الْأُفُقِ

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Isma’il; Telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshariy; dari Ibnu ‘Aun; Telah mengabarkan kepada kami Al-Qasim dari ‘Aisyah -Radliallahu ‘anha- berkata: “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihat Rabb (Tuhan)nya berarti dia telah masuk pada persoalan (salah) besar. Akan tetapi Beliau melihat Jibril -‘Alaihissalam- dalam bentuk dan rupa aslinya yang menutupi apa yang ada di antara ufuk langit“. (Kitab Shahih Bukhari: nomor 2995).

Jadi tikar atau karpet yang berwarna hijau di ufuk itu ternyata sayap Malaikat Jibril yang wujudnya sangat besar sehingga menutupi ufuk langit (horison).

Ufuk langit (horison) juga ternyata selalu dilintasi oleh bintang, sebagaimana dalilnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَهْلٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ الْغُرَفَ فِي الْجَنَّةِ كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ فِي السَّمَاءِ
قَالَ أَبِي فَحَدَّثْتُ بِهِ النُّعْمَانَ بْنَ أَبِي عَيَّاشٍ فَقَالَ أَشْهَدُ لَسَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ يُحَدِّثُ وَيَزِيدُ فِيهِ كَمَا تَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الْغَارِبَ فِي الْأُفُقِ الشَّرْقِيِّ وَالْغَرْبِيِّ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah; Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz; dari Ayahnya; dari Sahal; dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda: “Sungguh penghuni surga bisa melihat kamar-kamarnya dalam surga sebagaimana mereka bisa melihat gugusan bintang di langit”. Kata ayahku, lantas aku menceritakannya kepada Nu’man bin Abi ‘Ayyasy, maka ia berkata: Sungguh aku dengar Abu Sa’id menceritakan, dan ia menambahnya dengan redaksi: “Sebagaimana mereka melihat bintang melintas di ufuk timur dan barat”. (Kitab Shahih Bukhari: nomor 6071).

Dalam hadits shahih diatas, ufuk langit (horison) yang dimaksud adalah ufuk timur dan ufuk barat. Bahwasanya bintang di langit melintasi bumi melalui ufuk timur dan ufuk barat.


Silahkan bacalah hadits-hadits shahih di bawah ini:

حَدَّثَنَا عَيَّاشُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَوْلِهِ
{ وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا }
قَالَ مُسْتَقَرُّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Ayyasy bin Al Walid telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Al A’masy dari Ibrahim At Taimi dari Ayahnya dari Abu Dzar berkata: “Aku bertanya kepada nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengenai kutipan ayat: ‘(dan matahari berjalan di persinggahannya)’ (Qs. Yasin: 38), beliau berkomentar: ‘Persingghannya (persinggahan matahari) adalah di bawah ‘Arsy‘”. (Hadits shahih didalam Kitab Shahih Bukhari nomor 6881).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي ذَرٍّ حِينَ غَرَبَتْ الشَّمْسُ أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ فَتَسْتَأْذِنَ فَيُؤْذَنُ لَهَا وَيُوشِكُ أَنْ تَسْجُدَ فَلَا يُقْبَلَ مِنْهَا وَتَسْتَأْذِنَ فَلَا يُؤْذَنَ لَهَا يُقَالُ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَطْلُعُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى
{ وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ }

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf; telah bercerita kepada kami Sufyan dari Al-A’masy dari Ibrahim at-Taymiy dari bapaknya dari Abu Dzar -radliallahu ‘anhu- berkata; Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepada Abu Dzar ketika matahari sedang terbenam: “Tahukah kamu kemana matahari itu pergi (terbenam)?”. Aku jawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia (matahari) akan terus pergi (terbenam) hingga bersujud di bawah al-‘Arsy (singgasana Allah) lalu dia (matahari) minta izin kemudian diizinkan dan dia (matahari) minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah ke tempat asal kamu datang!’. Maka matahari itu terbit (keluar) dari tempat terbenamnya tadi (ufuk barat). Begitulah sebagaimana firman Allah didalam QS Yasin ayat 38 yang artinya: (Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya (orbitnya). Demikianlah itu ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui)!”. (Hadits shahih didalam Kitab Shahih Bukhari nomor 2960).

Jadi kesimpulannya adalah, setiap hari matahari itu selalu dan selalu mengelilingi bumi. Namun matahari mengelilingi buminya hanya di waktu siang hari saja.

Sebab matahari di waktu malam hari selalu bersujud di bawah ‘arsy Allah (singgasana Tuhan) yang lokasinya terletak diatas langit yang ketujuh.

Wallahu a’lam bi showwab…
Tentang Penciptaan Matahari, Ukuran Matahari dan Matahari Mengelilingi Bumi Title : Tentang Penciptaan Matahari, Ukuran Matahari dan Matahari Mengelilingi Bumi
Description : Sebuah hadits yang panjang yang mengisahkan tentang penciptaan matahari, ukuran wujud matahari, dan...
Rating : 5


Artikel Terkait:

2 komentar:

  1. Matahari mengelilingi bumi? Berarti bertentangan dengan sains modern yg mengatakan bumi mengelilingi matahari? Ternyata Nasa dan teori2 menipu kita -_-

    BalasHapus
  2. Matahari mengelilingi bumi? Berarti bertentangan dengan sains modern yg mengatakan bumi mengelilingi matahari? Ternyata Nasa dan teori2 menipu kita -_-

    BalasHapus

 

Rindu Tulisan Islam - All Right Reserved.