Minggu, 15 Desember 2013

0 Makna "Sami'na wa atho'na, kami dengar dan kami taat"


- Salah satu pelajaran penting perisitiwa Isra Mi'raj ini adalah kaidah "samina wa atho'na" di dalam diri orang-orang beriman, kami dengar dan kami taat.

- ketika Rasulullah mengabarkan tentang perjalanan beliau isra dan mi'raj, orang-orang kafir mendustakan, menertawakan & menganggap beliau gila.

- Kecuali
orang-orang beriman, mereka mempercayainya. Bahkan Abu Bakr as Shiddiq brkata, "Meskipun Muhammad mengatakan lebih dari itu, akupun percaya."

- Pun ketika seseorang pemuda mendatangi Rasulullah dan berkata, "Wahai Muhammad, berdirilah." Kemudian Rasulullah berdiri.

- "Angkatlah kakimu, yang kanan!" katanya setelah sebelumnya menanyakan tentang isra mi'raj. Kemudian Rasulullah mengangkat kaki kanan, mengernyit.

- "Sekarang angkat kaki kirimu!" kemudian Rasulullah diam sejenak, paham apa maksud pemuda tersebut.

- "Kalau aku angkat kaki kiriku sementara kaki kananku masih diangkat, aku pasti jatuh terguling." jawab beliau lembut, masih dengan penuh kesabaran.

- Kemudian pemuda itu tertawa terbahak-bahak, "Inilah bukti bahwa kau pembohong! Mengangkat kedua kaki saja tidak mampu, apalagi terbang ke langit

- Rasulullah tetapi sabar dan tenang lalu beliau berkata, "Kalau kau ingin penjelasan tentang isra mi'raj, datangilah sahabatku, Ali bin Abi Thalib."

- Masih sambil tertawa-tertawa ia pergi meninggalkan Rasulullah dan menemui Ali. Kemudian pemuda itu meminta Ali menjelaskan peristiwa isra mi'raj.

- "Aku brtanya kepada Muhammad apakah betul ia naik ke langit. Lalu ia tidak bisa mmbuktikannya kepadaku stlh memintanya mengangkat kedua kakinya."

- Ali mendelik, ia mencabut pedangnya dan dengan cepat mengarahkan pedangnya ke leher si pemuda. Lalu pemuda itu terkapar, berdarah-darah.

- Para sahabat yang menyaksikan perisitiwa itu lantas berkata, "Wahai anak Abi thalib, apa yang kau lakukan!? Betapa gegabahnya engkau !!!.....

-...Kejam dan berperikemanusiaan! Bukankah Rasulullah memintamu menjelaskan kepadanya tentang isra mi'raj? Bukan membunuhnya!" kata mereka cemas.

- "Dia ini, Rasulullah sendiri yang mnceritakan
tentang isra mi'raj. Justru ia mengejek dan menghina beliau. Padahal Rasulullah sudah dengan sangat lembut....

- ...apalagi beliau sendiri yang mengalami perisitiwa tersebut. Tentu beliau lebih paham dan jelas tentang itu. Artinya ucapan beliau lebih jelas daripada aku...

- Rasulullah yang bercerita saja ia justru mendustakan dan menghina. Alih-alih jika seorang Ali yang menceritakannya, mana mungkin ia mempercayainya...

- Kedatangannya bukan untuk atau mencari tahu, tetapi untuk atau merendahkan dan melecehkan keimanan kita....

- Maka agar ia percaya, ia harus mati dulu baru ia tahu dan percaya akan semua perkara yang ghaib selama ini!" ucap Ali dengan mantap...

- Inilah sikap
orang-orang beriman, sami'na wa atho'na. Apa-apa yang datang dari Allah dan RasulNya didengarkan dan ditaati. Bukan mencari-cari alasan menghindar.

- Bagaimana sikap kita selama ini terhadap ayat-ayat al-Quran? Hadits-hadits Rasul? Mengimaninya kah atau justru menolak dan mencari-cari alasan untuk  atau menolaknya?

- Al-Quran, itu adalah kalamullah (kalimat-kalimat Allah), sebagai wahyu bagi Rasulullah yang isinya mencakup semua hukum dasar dlm Islam. Sikap kita bagaimana?

- Sedangkan hadits itu adalah perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan) dan penyifatan yang dinisbatkan kepada Rasulullah. Dan sikap kita bagaimana?

- Dalam hadits itu sendiri ada tingkatan kualitas berdasarkan sanadnya. Ada shahih, hasan & dha'if (urutan sesuai kualitas tertinggi ke terendah).

- Ketika itu hadits shahih pun sudah disampaikan, sedagkan kita masih mendustakannya, atau mencari-acari arti yang lain untuk / menolaknya, berimankah kita?

- Ini adalah salah satu pelajaran yg sangat berharga dari peristiwa isra mi'raj: mengukur kualitas keimanan dengan kaidah "sami'na wa atho'na".

- Karena semua yang datang dari Rasulullah adalah kebenaran, kebaikan dan kemuliaan yg diberikan oleh Allah. "Kami dengar dan kami taat." Ini!

- Sudah sejauh apakah kita mengimani Allah dan Rasulnya sementara kita masih sibuk 'membuktikan' apa-apa yang ada di Quran dan hadits baru kita percaya.

- Bagaimana sikap kita selama ini terhadap al-Quran dan as-sunnah? Seperti Abu Bakar kah yang langsung mempercayainya tanpa banyak bertanya?

- Atau seperti
orang-orang kafir dan pemuda tadi yang banyak mempertanyakan apa-apa yang sudah Allah tetapkan dan yang sudah Rasulullah sampaikan?

- Bersikap kritis dan banyak bertanya memang baik, tapi bukan dlm konteks ini. Karena Allah itu Maha Mengetahui perkara yang dzhair maupun yang ghaib.

- "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,.

- .. dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah [2] : 216)

- Wallahu a'lam bishawab. Semoga kita bisa menyempurnakan keimanan kita dengan "sami'na wa atho'na" atas apa-apa yang sudah Rasulullah sampaikan.

- Semoga dimaafkan segala kesalahan, semoga manfaat dan berkah, dan semoga makin diteguhkan keimanan kita semua muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat.

Jazakumullah khayran katsir
Makna "Sami'na wa atho'na, kami dengar dan kami taat" Title : Makna "Sami'na wa atho'na, kami dengar dan kami taat"
Description : - Salah satu pelajaran penting perisitiwa Isra Mi'raj ini adalah kaidah "samina wa atho...
Rating : 5


Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Rindu Tulisan Islam - All Right Reserved.