Rabu, 18 Desember 2013

0 Krisis Israel-Suriah Perebutan Dataran Tinggi Golan Bagai Perang Thalut dan Jalut


Permusuhan panjang antara Israel dengan Suriah (Syria) sudah berlangsung sejak Perang 1967, ketika Israel berhasil merebut Dataran Tinggi Golan, kemudian berlanjut dengan keterlibatan kedua pihak dalam perang Lebanon tahun 1982-1983. Permusuhan ini telah berjalan selama tiga dekade di akhir abad ke-20 dan sampai kini masih berlanjut. Tetapi situasi agak berubah ketika Israel mencapai kesepakatan damai dengan Palestina, yang ditandai dengan Perjanjian Madrid, Oslo I dan II, serta berbagai kesepakatan yang terkait, dimana Israel merasa sudah tiba saatnya untuk berunding, begitu juga Suriah.


DAERAH PENYANGGA STRATEGIS

Perundingan-perundingan yang terjadi kemudian ternyata alot dan rumit, karena perbedaan pandangan yang selama ini menjadi inti konflik antara kedua negara tersebut, yang juga menjadi konflik antara negara-negara Arab dengan Israel. Suriah di bawah kepemimpinan Hafez al Assad (alm) menentang setiap upaya Israel untuk terus mengukuhkan pendudukannya atas Dataran Tinggi Golan. Suatu dataran tinggi yang memanjang disepanjang danau Galilea sampai ke utara Israel di ketinggian gunung Hermon (2.814 meter) yang berpuncak salju setebal 11/2 meter, dimana Israel dengan 20.000 pasukannya dapat mudah memantau musuhnya serta bisa mengawasi sumber air terbesar yang masuk ke danau Galilea. Bagi kepentingan Suriah, dataran tinggi Golan adalah segala-galanya.

Dataran tinggi ini adalah penyangga strategis dan dari sini Damaskus (Damsyik) dengan mudah memukul mundur Israel atau bahkan menyiapkan sebuah serbuan besar-besaran ke Israel. Dengan menguasai Golan yang sejuk, juga berarti menyediakan sumber air bagi Lembah Bekaa. Lembah Bekaa dan Golan adalah garis sepadan, pusat militer serta pusat pertanian dan kultural Suriah. Golan adalah sebuah prestise yang harus tetap erat dipegang Damaskus. Dalam masa tiga dekade, kawasan selebar 10 mil itu dikuasai Israel, bahkan telah dimasukkan dalam peta geografi Israel Raya.

Saat ini Suriah harus membiayai 30.000 pasukan yang dikonsentrasikan dekat Golan dan Lebanon Selatan yang rawan karena Israel membangun zona demiliterisasi dan sering bertempur dengan grilyawan Hizbullah. Suriah menuntut pengembalian Golan tanpa syarat. Sebaliknya Israel menuntut agar Damaskus menghentikan dukungan terhadap gerilyawan Hizbullah yang setiap saat menembakkan peluru meriam Katyusha dari Lebanon Selatan.


SURIAH DAN LEBANON

Suriah dengan Lebanon ibarat saudara yang merangkum tiga sintesis : kultural, politik, dan militer, yang berakar selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Sejak pemerintahan Presiden Bashir Gemayel, Amin Gemayel sampai pada era Emile Lahoud, Beirut selalu berkiprah kepada Damaskus. Bahkan Damaskus menganggap Lebanon adalah provinsi Suriah sendiri. Ini suatu kenyataan politik dan sejarah yang tidak dapat dipungkiri Israel. Damaskus berpengalaman pahit ketika pasukannya ditekan untuk mundur dari Beirut pada Agustus 1983 berdasarkan Perjanjian Damai Philip Habib. Para Jenderal Suriah harus menarik mundur Brigade Hittin dari Beirut Barat. Dan menarik sebuah brigade yang prestisius merupakan tamparan berat bagi Suriah. Tetapi langkah ini diambil juga untuk melerai pertempuran yang berlarut dengan pasukan Israel, yang mungkin akan mengalahkan brigade Suriah yang tangguh itu. Tekanan ini menyakitkan, seperti tekanan dan kekalahan yang dialami pada Perang 1967, ketika Israel berhasil mempercundangi Suriah.

Namun inti pertikaian utama sebenarnya adalah masalah Dataran Tinggi Golan. Suriah tetap pada pendiriannya untuk menerima kembali Golan tanpa syarat. Sedangkan Israel menawarkan beberapa pilihan untuk mengembalikan Golan dengan berbagai syarat yang ketat. Misalnya dengan tetap mempertahankan peralatan Early Warning System untuk mengamati musuh secara dini. Dan Damaskus harus menghentikan serangan dan infiltrasi gerilyawan Hizbullah ke Israel Utara. Pos-pos pengamatan Israel di Dataran Tinggi Golan, terutama di puncak Hermon, membuat Suriah tidak berkutik karena Damaskus tidak akan pernah dapat melancarkan serangan secara diam-diam terhadap Israel, dan cuaca disana membuat satelit pengamat sukar dioperasikan dan patroli udara sangat mahal.

Sebagai negara yang relatif kecil, Israel tidak memiliki suatu daerah khusus yang dapat diserahkan kepada penyerangnya sebagai pancingan atau taktik ketika serangan militer pertama dilancarkan. Karena itulah IDF (Israel Defense Forces) selalu mengandalkan serangan dadakan dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan musuh agar tetap berada diluar garis perbatasan. Hal ini juga berarti kebutuhan mutlak bagi Israel untuk memiliki informasi yang akurat dan tepat waktu tentang rencana penyerangan musuhnya, sehingga Israel dapat melancarkan serangan lebih dahulu. Meskipun benar bahwa Suriah dapat mencapai semua titik lokasi dari setiap tempat di Israel dengan rudal Scud-C mereka (baik yang berhulu ledak konvensional maupun nuklir atau biologi), akan tetapi posisi strategis Dataran Tinggi Golan menghalangi penyerbuan tentara daratnya. Hanya ada dua tempat yang menjadi jalan bagi Suriah, yaitu daerah Tel Fars dan daerah Quneitra. Itu sebabnya mengapa Israel yang memiliki pasukan yang berjumlah kecil mampu bertahan dari serbuan seribu tank Suriah dimasa perang Yom Kippur. Jika Israel tidak menguasai Golan, maka mereka harus memukul mundur serangan musuh di dalam daerah mereka melalui daerah-daerah yang padat penduduk seperti Lembah Hula, Lembah Yordan, dan Galilea. Dan itu berarti akan memakan korban jiwa yang sangat banyak dan mengerikan.

Israel sangat membanggakan pasukan elite-nya yang ditempatkan di sistem pemberitahuan dini Golan, yang berjarak hanya 500 meter dari garis demarkasi. Dari ketinggian 1.500 dan 2800 meter di atas lereng terjal dan puncak Gunung Hermon, pasukan Israel dengan mudah memantau setiap gerakan pasukan Suriah di utara. Pasukan elite Israel yang juga terlatih untuk perang di pegunungan salju juga bisa mengamati kota Damaskus yang jauhnya sekitar 43 kilometer. Sementara itu di Golan saat ini sudah ada sekitar 17.000 pemukim Yahudi yang sudah menetap disana sejak tiga dekade dan hidup dari hasil perkebunan, terutama anggur dan apel. Mereka memperoleh previlese yang diberikan pemerintah dan tidak bersedia keluar dari Golan dengan begitu saja.

Dataran Tinggi Golan sangat kaya dengan sumber airnya, yang menjadi kebutuhan pokok negara-negara gurun pasir. Suriah dengan segala usaha berusaha mengeringkan sumber air Israel ini dengan cara membelokkan aliran sungai Yordan tetapi tidak pernah berhasil. Sejak bulan Juni 1974, 1250 pasukan dari DOF (Disengagement Observer Force) PBB telah berpatroli di daerah yang menjadi perbatasan Israel - Suriah. Sesungguhnya pasukan PBB ini tidak cukup kuat untuk mencegah agresi yang dapat terjadi setiap saat. Keadaan yang sama seperti pasukan sekutu ketika berada di Berlin Barat selama perang dingin berlangsung. Tetapi bagaimanapun juga sekarang dapat dikatakan bahwa PBB telah bertindak sebagai penjamin perdamaian di Dataran Tinggi Golan.

Pada masa PM Benyamin Netanyahu, pemerintah terlalu ditekan oleh Partai Likud dan kalangan konservatif Israel, untuk tidak berunding apapun dengan Suriah. Dan tentunya juga menghambat perwujudan Perjanjian Oslo I dan II untuk berdamai dengan Palestina. Tetapi kemudian suasananya jauh berbeda ketika Ehud Barak menjadi Perdana Menteri, ia ingin agar Israel dapat hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara Arab yang menjadi tetangganya, walaupun untuk itu ia harus menanggung resiko dikecam habis-habisan. Tetapi Ehud Barak sudah mengisyaratkan bahwa pengembalian Golan adalah kompromi atau konsesi yang cukup menyakitkan dan mahal karena ia harus memberikan jaminan kompensasi terhadap 17.000 pemukim Yahudi dan penarikan 20.000 pasukannya yang berada di sekitarnya, untuk meninggalkan Golan. Di al-Quran kita tidak menemukan nubuatan yang terjadi di dataran tinggi golan tetapi di dalam ada didalam bible :

bible menginformasikan bahwa pada waktunya nanti Israel akan menaruh kepercayaan besar kepada perlindungan yang dijanjikan oleh anti-kris melalui perjanjian bilateral dengan Uni Eropa (Yehezkiel 38 - Daniel 9)


KELOMPOK-KELOMPOK YAHUDI

Upaya pengembalian dataran tinggi Golan mendapat penolakan dari sebagian besar rakyat Yahudi, terutama dari golongan Yahudi Shepardim, yakni masyarakat Yahudi yang lahir di Eropa Timur, atau di negeri-negeri Arab seperti Maroko, Mesir, dan Yordania, sebelum terbentuknya negara Israel (1948). Mereka digolongkan sebagai golongan ultra-ortodoks dan ultra-nasionalis, yang masih berpegang kuat pada nilai-nilai spiritual Yahudi. Shepardim menganggap bahwa Yerusalem, Hebron, dan wilayah-wilayah lain di Tanah Perjanjian yang masih ditempati oleh orang bukan Yahudi, harus dibebaskan, termasuk Golan. Jumlah shepardim adalah 40 persen dari jumlah seluruh bangsa Yahudi. Mereka mempunyai ciri-ciri khusus, antara lain mengenakan baju sutera dan topi hitam, serta memelihara jambang dan kumis janggut. Mereka tinggal berkelompok, misalnya di daerah Mea Sharim atau Heredi di Yerusalem, dan beribadah secara aktif di sinagog-sinagog. Ada lagi kelompok elite Yahudi Askhenasim, yakni imigran asal Eropa Barat dan Amerika yang berjumlah 22 persen. Merekalah yang menempati level atas dalam ekonomi maupun politik. Kelompok ini mendukung penuh kebijaksanaan Partai Buruh untuk merealisasikan perdamaian secara penuh dengan negara-negara Arab, termasuk pengembalian dataran tinggi Golan kepada Suriah.

Saat ini proses Golan masih berlangsung alot karena munculnya banyak hambatan sosial, keagamaan, dan politik. Terlebih lagi sejak pemimpin "garis keras" Ariel Sharon menduduki posisi Perdana Menteri Israel. Sharon tidak mungkin berkompromi dengan apapun tentang Golan. Diperkirakan ia akan "membabat" habis semua rintangan untuk mempertahankan Golan, berapapun harganya.

Beberapa ahli politik Timur Tengah memprediksikan bahwa pada akhirnya Israel akan mengembalikan seluruh atau sebagian Dataran Tinggi Golan kepada Suriah dengan syarat PBB atau Uni Eropa menduduki daerah itu sebagai jaminan keamanan Israel. Jika hal itu benar-benar terjadi, maka itu menjadi saat-saat yang menentukan sepanjang sejarah, karena belum pernah sekalipun Israel menyerahkan keamanan nasionalnya kepada pikah lain. 



BAIT SUCI KETIGA

Bible juga menginformasikan bahwa pada waktunya nanti Israel akan menaruh kepercayaan besar kepada perlindungan yang dijanjikan oleh Anti-kris melalui perjanjian bilateral dengan Uni Eropa (Daniel 9:27). 


Yehezkiel menggambarkan keadaan Israel sebelum adanya perjanjian tersebut : "…tanah yang kota-kotanya tanpa tembok...mereka semuanya diam tanpa tembok atau palang atau pintu gerbang" (Yehezkiel 38:11).

Ini adalah suatu hal yang luar biasa. Jika anda pernah mengunjungi Israel, maka anda akan mengerti bahwa kubu-kubu pertahanan adalah prioritas utama bagi keamanan Israel. Pasukan tentara yang sangat terlatih, senapan-senapan mesin, tank-tank, helikopter, kawat berduri, semua itu menjadi benteng-benteng atau tembok-tembok bahkan pintu gerbang pertahanan Israel. Serangan Rusia dan sekutu Arab-nya di ujung akhir zaman nanti akan memporak-porandakan semua pertahanan itu sehingga Israel terpaksa mengadakan perjanjian dengan Uni Eropa. 


Bagaimanapun, Kitab Suci sudah menubuatkan apa yang akan terjadi dengan Israel dan Yerusalem. Keduanya akan tetap memegang peran penting dalam menutup sejarah manusia. Bila saatnya tiba, ketegangan baru akan terjadi mengenai Dataran Tinggi Golan ini menyusul masalah Jalur Gaza - Tepi Barat - dan Lebanon Selatan. Dunia akan menghadapi semua masalah ini sebagai suatu kemunduran dari Perjanjian Oslo II, yang berarti kehilangan jaminan perdamaian di Timur Tengah. Tetapi kita akan membacanya sebagai perjalanan atau proses waktu yang mendekat kepada penggenapan nubuat Kitab Suci. 

KRISIS PERANG ISRAEL-SURIAH BAGAI PERANG THALUT DAN JALUT

Kawasan Mageddo ini pernah dikatakan oleh setengah pendapat bahwa terjadinya Peperangan antara Thalut dengan Jalut. Ayat Quran yang menjelaskan berkaitan Perang Thalut dengan Jalut adalah bermula dari Ayat 247-251 Surah Al-Baqarah . Dalam ayat 249-251 sebagai sumber rujukan dan kaitan perang tersebut dengan kedudukan Geografi Mageddo di Utara Israel.

Firman Allah Taala : "249. Maka ketika Thalut keluar membawa bala tentaranya[13], dia berkata, "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai[14]. Maka barang siapa meminum airnya, dia bukanlah pengikutku[15]. Dan Barang siapa tidak meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka[16]. Ketika Thalut dan orang-orang yang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, "Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah[17]." Dan Allah beserta orang-orang yang sabar[18]."

250. Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka (Thalut dan tentaranya) berdoa[19], "Ya Tuhan Kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah langkah kami[20] dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."[21]

251. Maka mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah, dan (dalam peperangan itu) Dawud[22] membunuh Jalut, kemudian Allah memberinya (Daud) kerajaan dan hikmah[23], dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki[24]. Jika Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian dengan sebagian yang lain[25], niscaya rusaklah bumi ini[26]. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas seluruh alam.[27] "(Baqarah 249-251)

Banyak tanda-tanda bahwa Israel telah melakukan berbagai persediaan rapi untuk menghadapi Armageddon tersebut tetapi mereka telah menyembunyikan fakta berkaitan dengan akhir zaman yang akan berlaku di Mageddo Utara Palestina antaranya :

- Israel menjajah Palestina secara rasmi pada tahun 1946 sehinggalah Palestin berbaki kepada tanah Tebing Barat (West Bank) dan Semenanjung Gaza (Gaza Strip). 
 
- Semakin banyak umat Yahudi dihimpunkan di Tanah Palestin dari berbagai pelosok dunia.

- Israel mencoba menjajah Selatan Lebanon / Selatan Lebanon (Wilayah Tyre dll) adalah termasuk juga dalam Wilayah Besar Mageddo, tetapi Israel kalah dalam perang tersebut. (Pertempuran tersebut melibatkan ketenteraan oleh Hizbullah)

- Israel mencoba menjajah kawasan Pergunungan Golan (Golan Heights) yang juga merupakan salah satu tempat terangkum dalam Wilayah Mageddo. Tentera Israel menguasai tempat tersebut. Pergunungan Golan juga mempunyai air terjun yang mengalir airnya ke Tasik Tobariah (Sea of Galilee) serta dari cakupan air di Tasik Tobariah tersebut melimpah dan mengalir sungai Jordan yang mengalir terus airnya ke Laut Mati (Dead Sea). Bukit Golan begitu strategik bukan saja dari sudut sumber air tetapi juga ketinggian Bukit Golan amat bermanfaat bagi Israel untuk meninjau dan menyerang Tentera Muslimin dan dikatakan oleh beberapa pendapat sebagai pangkalan untuk Damascus, Damsyik. Ghuttah, Syria sewaktu kedatangan Imam Mahdi dan Nabi Isa a.s.


Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batupun akan berbicara, ‘Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!’”

Hadits di atas merupakan gambaran tentang episode akhir zaman. Petempuran akhir zaman akan mengerahkan seluruh kekuatan Yahudi dan negara Israel serta sekutu-sekutunya di seluruh dunia. Betapa hebatnya pertempuran itu, sampai-sampai batu dan kayu ikut berkata-kata menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. 

Kitab mereka sendiri juga mengatakan hal tersebut. Bibel pasal Yehezkiel (7 : 15) berjudul Kesudahan Jerusalem menyebutkan : "Pedang ada di luar kota, penyakit menular dan kelaparan ada di dalam. Barang siapa (Yahudi) yang di luar kota akan mati karena pedang, dan barang siapa (Yahudi) yang di dalam kota akan binasa oleh kelaparan dan penyakit menular."

Hal ini dipertegas dalam Bibel kitab Yehezkiel pasal 6 ayat 11 – 14 : "Beginilah firman Tuhan Allah, ‘Bertepuklah dan hentakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah, ‘Awas!’ Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan, dan penyakit yang menular. Yang jauh akan mati karena penyakit menular, yang dekat akan rebah karena pedang, dan yang terluput serta terpelihara akan mati karena kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanahnya, di mana saja mereka diam akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi sepi mulai dari padang gurun sampai Ribla."

Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir zaman. Di kalangan kaum muslimin juga dijumpai istilah tersebut, yaitu al-Majidun ‘kemuliaan’ yaitu “Perang Kemuliaan”. Hal ini ditemukan dalam beberapa manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah.

Armageddon adalah nama sebuah gunung di Palestin / Utara Israel. Arti dari Armageddon sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti Gunung (Har dalam bahasa Ibrani / Hebrew) dan Mageddon = Magiddo adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Kota Magiddo terletak di pegunungan Samaria, di mana gunung ini membentang dari Magiddo di utara sampai ke Hebron di selatan. Tetapi Tafsiran Wilayah Mageddo  itu lebih meluas lagi bermula dari Haifa di Laut Mediteranean hingga ke Kota Mageddo di Pergunungan Samaria terbentang hingga Hebron naik ke Tasik Tobariah (Sea of Galilee) hingga ke Pergunungan Golan di Syria yang melintang ke Selatan Lebanon berdekatan Laut Mediteranean.

Terdapat banyak istilah tentang Armageddon, Rasulullah menyebutnya sebagai Al-Malhamah al-Kubra "pertempuran besar yang tidak ada tandingannya". Istilah yang lainnya seperti Hari Jabal di Palestina. Istilah-istilah yang lainnya muncul berdasarkan nama tempatnya yaitu Samaria, Bukit al-Quds (Jerusalem), Tanah Isra’ dan Mikraj, Al-Jabal al-Majid (Majidu asy-Syam), Lembah Yosafat, dan Lembah Penentuan. Nama-nama tempat itu secara geografi adalah sama, yaitu dalam satu tempat / kawasan di Israel dan 8 sekitarnya, meliputi juga Lebanon bagian selatan yang berhadapan dengan kota Mageddo, bagian barat Jordan, serta bagian selatan Syria (dataran tinggi Golan).


Di dalam buku "Armageddon Peperangan Di Akhir Zaman" karangan Ir. Wisnu Sasongko dengan melihat Quran, Hadith, Bible dan Taurat akan berpangkalannya Tentera Rom (Tentera-tentera sekutu) di Kawasan Aleppo setelah mereka menguasai Negara Lebanon untuk dijadikan Negara Kristian Lebanon. Tentera Muslimin yang diketuai Nabi Isa dan Imam Mahdi akan berpusat di Damascus di Syria serta Tentera Yahudi yang diketuai oleh Al-Masihud Dajjal akan berpangkalan di Mageddo dan Palestina. 


Pada episode di akhir zaman nanti, Isa Putera Maryam akan turun untuk menghakimi orang Yahudi atau Israel, yaitu orang-orang Yahudi keturunan Samiri si penyembah sapi, serta semua yang menjadi pendukungnya (Rom / Romawi). Mereka bersama pendukung-pendukungnya akan berkumpul di gunung Mageddo. Di sinilah Dajjal si Pendusta Besar berperanan dalam terwujudnya Pertempuran Akhir Zaman. Di tengah-tengah pertempuran itu, Allah kirimkan "Hantaman yang Keras" (al-Bathsyah al-Kubro) yang menghantam  bala tentera Rom dan Israel. Sehingga, mereka terbunuh dengan hebatnya. Puncak dari pertempuran itu, Allah menurunkan Isa Putra Maryam (Jesus Crist) untuk membunuh Dajjal dan pengikutnya.

Peperangan Armageddon ini mempunyai rentang waktu yang lama. Sehingga, menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu tentara kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan kaum muslimin yang dipimpin oleh Imam Al-Mahdi. Di tengah-tengah berkecamuknya perang ini, turunlah pertolongan Allah kepada kaum muslimin yaitu dengan diturunkannya Isa Al-Masih Putra Maryam Perawan Suci. Isa akan turun di menara putih di timur Damascus ketika waktu malam pagi menjelang fajar bukanlah selepas Subuh. Kemudian Isa masuk ke markas kaum Muslimin dan ikut dalam barisan Solat Subuh. Setelah itu ia bersama Imam Al-Mahdi akan memimpin kaum Muslimin menyerbu seluruh markas kaum kafir, bahkan berhasil membunuh Dajjal dan seluruh orang kafir.

Wallahu Allam bishowab
 

Krisis Israel-Suriah Perebutan Dataran Tinggi Golan Bagai Perang Thalut dan Jalut Title : Krisis Israel-Suriah Perebutan Dataran Tinggi Golan Bagai Perang Thalut dan Jalut
Description : Permusuhan panjang antara Israel dengan Suriah (Syria) sudah berlangsung sejak Perang 1967, ket...
Rating : 5


Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Rindu Tulisan Islam - All Right Reserved.