Jumat, 05 Juni 2015

0 Nubuatan Daniel Remuknya Dogma Kekristenan [Ke Satu]

Kitab Daniel merupakan salah satu kitab yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Kitab Daniel terdiri dari 12 pasal, di mana Pasal 1-7 ditulis dengan bahasa Aram (Aramaic), sedangkan Pasal 8-12 ditulis dengan bahasa Ibrani. Namun pada perkembangan selanjutnya, untuk Pasal 1 kemudian juga ditulis dengan menggunakan bahasa Ibrani.

Kali ini kita akan menelaah salah satu nubuat dalam Bible dengan penafsiran yang bisa dikatakan sangat berbeda dengan tafsir kalangan Gereja lainnya namun keotentikan dan kekredibilitas kebenaran makna nubuatnya tidak akan kalah dari tafsir para ahli Alkitab tersebut semacam John Collin, Young, Stuart mau pun Langrange. Pada dasarnya metode tafsir yang digunakan hampir sama dengan cara tafsiran Gereja, melalui proses analisa makna kata per kata, proses sintesa yaitu analisa keterkaitan makna kata yang satu dengan yang lain, serta kajian aspek histori dan ditambah dengan melihat realitas empirisnya. Mungkin letak perbedaannya hanya lebih pada kekritisan dalam pemahaman dan keterbukaan dalam mengetahui kebenaran.

Mengapa tafsiran dalam nubuat ini akan begitu penting? Karena jika makna nubuat berikut dapat ditafsirkan dengan benar, maka hal ini akan sukses mengguncang sisi keimanan Kristiani dan penggenapannya akan menjadi ketakutan terbesar bagi setiap pribadi Kristen yang selama ini berpayung dalam dogma Gereja. Dan nubuat menarik yang dimaksud akan dapat membahayakan nalar kritis Kristiani dan memukau nalar kritis umat lain tersebut terdapat pada Kitab Daniel, tepatnya Daniel 2:30-35.

Kitab Daniel Dan Mimpi Raja Nebukadnezar

Sebagaimana halnya seperti Kitab Wahyu yang terdapat dalam Perjanjian Baru, maka di dalam Kitab Daniel ini banyak memuat hal-hal yang berkaitan dengan penglihatan-penglihatan atau nubuat-nubuat tentang masa depan yang banyak mempengaruhi perkembangan pemikiran dan keyakinan umat Kristiani. Bagi Kristiani, nubuat dalam Bible senantiasa terjadi dan menurut mereka hal inilah yang membuktikan kebenaran Bible, meskipun sejujurnya kebanyakan nubuat dalam PL yang seakan digenapi dalam PB terutama nubuat mengenai Yesus adalah distorsi dan kebohongan oknum penulis Injil Kanonik untuk meluluskan doktrin kepercayaan mereka tentang kedatangan dan takdir Yesus di dunia.

Sekarang kita akan fokus mengungkap makna nubuat dalam Daniel 2:30-35, berikut kutipan lengkap ayatnya:

Daniel 2:30-35

2:30 Adapun aku, kepadaku telah disingkapkan rahasia itu, bukan karena hikmat yang mungkin ada padaku melebihi hikmat semua orang yang hidup, tetapi supaya maknanya diberitahukan kepada tuanku raja, dan supaya tuanku mengenal pikiran-pikiran tuanku.

2:31 Ya raja, tuanku melihat suatu penglihatan, yakni sebuah patung yang amat besar! Patung ini tinggi, berkilau-kilauan luar biasa, tegak di hadapan tuanku, dan tampak mendahsyatkan.

2:32 Adapun patung itu, kepalanya dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga,

2:33 sedang pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat.

2:34 Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk.

2:35 Maka dengan sekaligus diremukkannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di tempat pengirikan pada musim panas, lalu angin menghembuskannya, sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.

Dasar nubuat diatas adalah penglihatan dalam mimpi Raja Nebukadnezar, makna mimpi tersebut kemudian ditanyakan Raja Nebukadnezar kepada Daniel, yang juga merupakan salah seorang penasehat Raja dan dipercaya sebagai Nabi. Daniel pun kemudian memberitahukan makna mimpi itu, dalam tafsirnya Daniel mengatakan bahwa di masa yang akan datang akan ada empat kerajaan yang akan mengalami kehancuran atau runtuh secara bergiliran. Dan kemudian akan muncul kerajaan kelima yang akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, dan kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.

Empat kerajaan yang akan mengalami kehancuran tersebut terdiri dari: Pertama, kerajaan "emas", yang juga merupakan kerajaan Raja Nebukadnezar (Babylonia) sendiri, dan memang kerajaan tersebut akhirnya hancur dan konon Raja Nebukadnezar kemudian sakit dan mengalami gangguan jiwa selama 7 tahun; kemudian yang kedua adalah kerajaan "perak"; ketiga kerajaan "tembaga" dan yang keempat adalah kerajaan "besi dan tanah liat". Namun demikian, untuk tafsir kerajaan yang kedua, ketiga, keempat dan kemunculan kerajaan yang kelima, Daniel tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Hal itulah yang kemudian mendorong para ahli tafsir Alkitab di kalangan Kristiani terus berusaha mengidentifikasi tentang 3 kerajaan yang akan hancur secara bergiliran tersebut, dan juga mengidentifikasi kemunculan 1 kerajaan yang akan tetap berdiri untuk selama-lamanya.


Jika kita perhatikan sebagaimana penglihatan lainnya dalam Bible, mimpi Raja Nebukadnezar tersebut penuh dengan alegori atau metafora, mimpi yang penuh simbologi namun dipercaya sebagai nubuat dan merujuk kesesuatu yang nyata. Sehingga untuk mengetahui kebenaran makna mimpi tersebut tidak cukup dengan melihat sejarah historis, tapi harus dengan penuh kekritisan tinggi untuk menyibak berbagai makna yang dimaksud dalam penglihatan sang Raja.

Seperti dikatakan sebelumnya bahwa pemaparan telaahan Kitab Daniel 2:30-35 berikut akan disajikan dalam perspektif yang baru dan berbeda dengan tafsiran para ahli Alkitab dari kalangan Kristiani umumnya. Kalau para ahli Alkitab lebih fokus pada upaya untuk menafsirkan makna kata "kerajaan", maka disini kita justru akan lebih fokus pada upaya menelaah makna kata "patung" yang sesungguhnya merupakan substansi hikmat dari mimpi Raja Nebukadnezar itu sendiri.

Jadi, kalau para ahli Alkitab dari kalangan Kristiani senantiasa berupaya mencari kerajaan apa yang dinubuatkan hancur tersebut, maka disini justru akan digali inti cerita yang menjadi mimpi Raja Nebukadnezar itu sendiri, yaitu makna kata "patung, karena sebagaimana yang tertulis pada Kitab Daniel 2:30-35, Raja Nebukadnezar sesungguhnya tidak bermimpi tentang sebuah kerajaan yang mengalami kehancuran, tetapi dia bermimpi tentang sebuah patung yang remuk oleh sebuah batu. Dan kita akan menyibak apa yang terkandung sebenarnya dari simbologi patung dalam mimpi Raja Nebukadnezar tersebut.

Penglihatan Raja Bukan Menubuatkan Kerajaan

Sekarang kita mulai dari Daniel 2:30
Daniel 2:30 Adapun aku, kepadaku telah disingkapkan rahasia itu, bukan karena hikmat yang mungkin ada padaku melebihi hikmat semua orang yang hidup, tetapi supaya maknanya diberitahukan kepada tuanku raja, dan supaya tuanku mengenal pikiran-pikiran tuanku.

Kalimat: "...bukan karena hikmat yang mungkin ada padaku melebihi hikmat semua orang yang hidup..."

Kalau kita cermati secara seksama, kalimat tersebut sesungguhnya menyiratkan bahwa kita sebenarnya masih diberikan peluang dan keleluasaan untuk dapat menafsirkan atau menelaah makna mimpi Raja Nebukadnezar lebih lanjut, bahkan sangat dimungkinkan bahwa hasil tafsiran/telaahan kita justru akan lebih deskriptif dan lebih bermakna dibandingkan dengan tafsiran Nabi Daniel atas mimpi Raja Nebukadnezar tersebut.

Kalimat: "...tetapi supaya maknanya diberitahukan kepada tuanku raja, dan supaya tuanku mengenal pikiran-pikiran tuanku..."

Kalimat tersebut sesungguhnya juga menjelaskan bahwa fungsi tafsir yang disampaikan oleh Nabi Daniel semata-mata hanyalah berfungsi untuk mengingatkan atau memberikan "warning and attention" kepada Raja Nebukadnezar bahwa kerajaan, kekuasaan, kekuatan dan kemakmuran yang telah miliki oleh Raja Nebukadnezar hanyalah bersifat sementara dan suatu saat pasti akan sirna.

Peringatan itu memang patut untuk diberitahukan kepada Raja Nebukadnezar karena memang pada saat itu dalam pikiran dan relung hati Raja Nebukadnezar telah mulai timbul sifat-sifat buruk dan tidak terpuji yang akhirnya membuat Raja Nebukadnezar menjadi sosok seorang penguasa yang sombong. Hal itu dimaksudkan agar Raja Nebukadnezar mampu mengenal pikiran-pikiran-nya sendiri dan memahami gejolak relung hatinya yang sudah mulai berlaku sombong agar kembali sadar bahwa kerajaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh seorang manusia, siapapun, di manapun, kapanpun dan semegah apa pun sesungguhnya tidaklah abadi karena Kerajaan dan Kekuasaan yang mutlak dan abadi hanya-lah milik Allah, Tuhan Pencipta Alam.

Jadi, kata kerajaan pada tafsir Nabi Daniel (Kitab Daniel 2:37-45) bukanlah sebuah kata sentral yang perlu ditafsirkan kembali maknanya, karena kata kerajaan tersebut hanya berfungsi sebagai tamsil dalam konteks ke-kini-an pada saat itu, yaitu ketika Nabi Daniel mengingatkan Raja Nebukadnezar agar tidak sombong. Kata "kerajaan" bukanlah merupakan sebuah kata yang mengandung makna nubuat atau ramalan-ramalan tentang adanya 4 kerajaan tertentu yang akan mengalami kehancuran dan munculnya 1 kerajaan yang akan berdiri untuk selama-lamanya di masa depan.

Menelaah Makna Mimpi Raja Nebukadnezar


Sekarang, jika ternyata penglihatan Raja Nebukadnezar bukanlah nubuat yang membicarakan masalah kerajaan pada umumnya, lantas apa makna sesungguhnya dari mimpi sang Raja? kita lanjutkan kajiannya.

Daniel 2:31: Ya raja, tuanku melihat suatu penglihatan, yakni sebuah patung yang amat besar! Patung ini tinggi, berkilau-kilauan luar biasa, tegak di hadapan tuanku, dan tampak mendahsyatkan.

Jika kita mencermati Kitab Daniel 2:31 tersebut di atas, maka tentu akan timbul beberapa pertanyaan. Mengapa Raja Nebukadnezar harus bermimpi tentang sebuah patung? Bukankah Nebukadnezar adalah seorang Raja? Mengapa dia tidak bermimpi saja tentang istananya yang runtuh? Atau bermimpi tentang singgasananya yang ambruk? Atau tentang mahkotanya yang jatuh? Dalam Kitab Daniel 2:37-45 diceritakan bahwa patung tersebut akhirnya remuk karena tertimpa sebuah batu.

Lalu apakah makna patung dalam mimpi Raja Nebukadnezar tersebut merupakan tamsil atau metafora atau sebuah alegori? Apakah merupakan tamsil dari hegemoni sebuah kerajaan atau negara? Ataukah merupakan tamsil dari hegemoni sebuah kekuasaan seorang raja atau kepala negara secara pribadi? Ataukah bahkan mungkin merupakan tamsil dari hegemoni sebuah isme atau agama tertentu?

Jika kita cenderung lebih kritis, maka makna kata "patung" dalam mimpi Raja Nebukadnezar sesungguhnya merupakan simbol yang mencerminkan hegemoni sebuah keyakinan agama. Mengapa patung mesti dikaitkan dengan simbol hegemoni sebuah keyakinan agama? Karena sudah mulai sejak zaman megalitikum sampai dengan zaman sekarang ini, hampir semua agama di dunia ini melakukan ritual peribadatan kepada sesembahannya melalui simbol-simbol dalam bentuk sebuah patung (kecuali Islam, yang tidak pernah menyimbolkan Tuhannya (Allah) dengan simbol sebuah patung).

Lihat saja pada agama-agama yang masih eksis hingga saat sekarang ini; Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Shinto dan lain-lainya, semua memiliki simbol-simbol ketuhanan masing-masing di mana sudah lazim patung-patung sesembahannya diletakkan ditempat peribadatan. Contohnya patung Yesus Kristus selalu terpasang di setiap gereja dan katedral. Di dalam ilmu anthropologi, faham yang menyimbolkan Tuhan dalam bentuk sebuah patung dan manusia disebut sebagai anthropomorphisme, atau faham yang mempersonifikasikan Tuhan sebagaimana layaknya seperti bentuk manusia atau benda tertentu. Kalau makna patung dalam mimpi Raja Nebukadnezar, yang terlihat amat besar, tinggi, berkilau-kilauan luar biasa, tegak dan nampak mendahsyatkan itu, adalah mencerminkan simbol hegemoni sebuah keyakinan agama, lantas simbol hegemoni sebuah keyakinan agama apakah itu?

Daniel 2:32 Adapun patung itu, kepalanya dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga,

Dari Kitab Daniel 2:32 tersebut di atas, terdapat rangkaian kata yang perlu kita maknai agar kita mampu menangkap hikmat atau makna tersembunyi yang dimaksudkan dalam mimpi Raja Nebukadnezar tersebut.

Kalimat: "...kepalanya dari emas tua,..."

Kata "kepala", merupakan bagian tubuh yang terletak pada posisi paling atas dan merupakan identitas utama yang pertama kali dapat dikenali oleh orang lain, karena pada kepala itulah terdapat wajah kita.

Kata "emas tua", merupakan sebuah logam yang melambangkan suatu kemuliaan, sedangkan kata "tua" merupakan kata komplementasi yang menegaskan bahwa kemuliaan tersebut merupakan kemuliaan yang amat sangat tinggi. Dan kemuliaan tertinggi yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia dalam konteks ini adalah agama. Kata "tua" juga dapat dialamatkan kepada makna sangat lama, sehingga jika disatukan maka kemuliaan dari Tuhan tersebut sudah ada sejak lama dan kembali lagi maknanya merujuk kepada bentuk agama.

Jadi, kalimat "kepalanya dari emas tua," memiliki makna bahwa orang-orang mengenalnya sebagai sebuah Agama.

Kalimat: "...dada dan lengannya dari perak,..."

Kata "dada", merupakan bagian tubuh yang melambangkan suatu diri yang hidup, karena di dalam dada inilah terdapat organ pokok penyokong kehidupan, yaitu jantung dan paru-paru. Yang dimaksud suatu diri yang hidup dalam konteks ini, artinya manusia.

Kata "lengan", merupakan bagian tubuh yang paling banyak melakukan aktifitas hidup, hampir semua aktifitas hidup selalu melibatkan bagian tubuh ini. Bagian tubuh ini juga merupakan organ pokok yang digunakan dalam aktifitas menghitung (lengan, tangan, jari-jari), sehingga dalam hal ini, kata "lengan" juga melambangkan sesuatu yang banyak.

Kata "perak", merupakan sebuah logam yang sejak zaman dahulu banyak digunakan sebagai bahan baku untuk membuat perlengkapan peribadatan yang dipakai oleh para penganut dalam setiap kegiatan ritual keagamaan. Misalnya: bokor-bokor untuk persembahan atau sesaji, bejana-bejana untuk air suci, piala/cangkir untuk anggur atau darah korban, nampan/piring untuk roti, tatakan/alas untuk lilin, genta/lonceng kecil dan sebagainya.

Jadi, kalimat "dada dan lengan-nya dari perak," memiliki makna bahwa agama tersebut memiliki jumlah penganut yang sangat besar atau terbesar di dunia dibandingkan dengan jumlah pemeluk agama-agama lainnya.

Kalimat: "...perut dan pinggang-nya dari tembaga..."

Kata "perut", merupakan bagian tubuh yang melambangkan suatu kemakmuran atau kesejahteraan, karena di dalam perut inilah makanan dan minuman yang masuk dicerna, diolah dan didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh. Bagian tubuh inilah yang memasok gizi dan nutrisi makanan yang digunakan untuk menopang kehidupan.

Kata "pinggang", merupakan bagian tubuh yang melambangkan sebuah kekuatan, karena didalamnya terdapat tulang panggul dan tulang ekor sebagai tempat bertumpunya tulang punggung atau tulang belakang sehingga merupakan tumpuan tubuh bagian atas.

Kata "tembaga", merupakan sebuah logam yang pada zaman dahulu banyak digunakan sebagai bahan baku uang logam. Uang logam dari bahan tembaga ini merupakan uang logam yang paling banyak jumlahnya (dibandingkan dengan jumlah uang logam dari emas mau pun perak) dan dipastikan hampir dapat dimiliki oleh semua kalangan, baik itu dimiliki oleh raja, keluarga raja, para bangsawan, prajurit kerajaan, saudagar-saudagar, pelaut, petani mau pun rakyat jelata. Logam ini melambangkan suatu pendanaan atau sumber keuangan.

Jadi, kalimat "perut dan pinggang-nya dari tembaga", memiliki makna bahwa agama tersebut merupakan agama yang secara individu (pemeluknya) maupun secara kelembagaan sangat kuat dan memiliki tingkat kemakmuran atau kesejahteraan yang baik, karena didukung oleh sumber pendanaan atau sumber keuangan yang sangat besar.

Daniel 2:33 sedang pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat.

Kalimat: "...paha-nya dari besi..."

Kata "paha", merupakan bagian tubuh yang memiliki fungsi utama untuk memulai sebuah pergerakan atau mobilitas. Agar seseorang dapat bergerak, berjalan, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, pasti selalu diawali oleh bergeraknya paha baik terangkat untuk maju, mundur atau diangkat ke atas dan kebawah. Jadi semua pergerakan seseorang dari satu titik ke titik yang lainnya sangat bergantung pada pergerakan paha, karena jika paha tidak bergerak maka sangat sulit seseorang dapat melakukan sebuah pergerakan. Jadi, "paha disini melambangkan sesuatu yang menggerakkan atau sesuatu yang menyokong kelangsungan dan eksistensi sebuah agama, agar dapat tetap eksis dan dapat berkembang biak di seluruh dunia.

Dalam konteks ini, maka yang dimaksud dengan "sesuatu yang menggerakkan" atau "sesuatu yang menyokong eksistensi" sebuah agama, adalah lembaga-lembaga keagamaan yang menanungi-nya (misalnya Dewan Gereja/Konsili, PGI, KWI, Kepausan, Keuskupan atau Bishop) dan individu-individu aktivis pergerakan agama (misalnya pendeta, pastur, suster, missionaris, dan penginjil).

Kata "besi", merupakan sebuah logam yang termasuk kategori logam paling kuat jika dibandingkan dengan logam-logam lainnya. Sehingga sudah sejak zaman dahulu kala, besi banyak digunakan sebagai bahan baku untuk membuat berbagai macam peralatan, terutama peralatan untuk perang. Misalnya untuk bahan baku pembuatan pedang, anak panah, mata tombak, pisau belati, bedil, baju besi, kereta kuda untuk perang dan sebagainya. "Besi" melambangkan sesuatu yang sangat kuat atau alat yang sangat kuat.

Jadi, kalimat "pahanya dari besi," mempunyai makna bahwa agama tersebut merupakan sebuah agama yang memiliki alat (lembaga keagamaan) yang pengaruhnya sangat kuat, dalam hal menentukan kebijakan-kebijakan yang dijadikan sebagai landasan keimanan dan merupakan mesin utama yang menggerakkan misi penyebaran agama serta merupakan pilar terpenting yang mpenyokong kelangsungan/eksistensi agama tersebut.

Kalimat: "...dengan kaki-nya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat..."

Kalimat diatas, merupakan kalimat yang paling crusial dan sangat tajam yang akan dapat mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan yang tepat tentang identitas sebuah agama yang dimaksud dalam tafsir mimpi Raja Nebukadnezar tersebut.

Sebagai orang yang terbiasa melakukan suatu analisa dan terbiasa untuk berpikir secara kritis maka dengan membaca kalimat di atas, tentu akan timbul beberapa pertanyaan dalam benaknya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain, mengapa kakinya harus terbuat dari bahan campuran antara besi dan tanah liat, kenapa bukan campuran dari bahan lainnya? Mengapa harus kakinya yang terbuat dari bahan campuran antara besi dan tanah liat, kenapa bukan kepala-nya saja, atau dada dan lengan-nya saja, atau perut dan pinggang-nya saja? Untuk mengetahuinya kita lanjutkan telaahan berikutnya.

Kata "kaki", merupakan bagian tubuh yang memilki fungsi sebagai tumpuan atau sebagai pondasi bagi keseluruhan tubuh. Kemampuan seseorang untuk dapat berdiri tegak dan kuat sangat tergantung pada kekuatan pijakan kaki yang dimiliki. Dalam konteks ini, maka sesuatu yang merupakan pondasi atau ajaran pokok sebuah agama, adalah berkaitan dengan dogma ketuhanan agama tersebut.

Kata "besi", sebagaimana telah diuraikan di atas, merupakan logam yang melambangkan alat yang sangat kuat atau melambangkan sebuah lembaga keagamaan yang sangat kuat, yaitu semisal Dewan Gereja (Konsili), PGI, KWI, Kepausan, Keuskupan atau Bishop.

Kata "tanah liat", merupakan tempat di mana kita berpijak, tanah liat dapat juga mengandung arti sebagai sebuah teritori atau sebuah wilayah. Dalam terminologi ilmu tata negara, kata "tanah liat" melambangkan suatu daerah kekuasaan atau wilayah pemerintahan, dimana dalam setiap wilayah tentu terdapat pemerintah atau penguasa yang berotoritas. Oleh karena itu, kata "tanah liat" dapat juga melambangkan sebuah pemerintahan atau melambangkan seorang penguasa sebuah kerajaan, kekaisaran atau negara.

Jadi, kalimat "dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat", memiliki makna bahwa pondasi agama tersebut, atau dogma ketuhanan agama tersebut merupakan hasil kesepakatan atau hasil kompromi antara kebijakan sebuah Lembaga Agama (Konsili) dengan kehendak seorang penguasa yang memegang otoritas pemerintahan pada saat kesepakatan tersebut dibuat. Di mana tentunya masing-masing pihak (Lembaga Agama dan Penguasa) memiliki kepentingan yang harus sama-sama diakomodir dalam kesepakatan.

Berdasarkan hasil telaahan, sudah sangat jelas kesimpulan bahwa makna "patung" dalam mimpi Raja Nebukadnezar sesungguhnya merupakan simbol yang mencerminkan hegemoni sebuah keyakinan agama. Sebelum kita bahas lebih lanjut mengenai kelanjutan nubuat Daniel ini, telebih dahulu kita ringkas kesimpulan yang telah kita dapatkan saat ini untuk mempertajam apa makna yang terkandung dalam Daniel 2:31-33. Agar lebih mudah dalam mengidentifikasi sosok patung dalam mimpi Raja Nebukadnezar, berikut ini pemaparan ringkasan telaahan Daniel 2:31–33 seperti yang telah diuraikan sebelumnya.

Daniel 2:31 Ya raja, tuanku melihat suatu penglihatan, yakni sebuah patung yang amat besar! Patung ini tinggi, berkilau-kilauan luar biasa, tegak di hadapan tuanku, dan tampak mendahsyatkan.

Ayat di atas memiliki makna bahwa Agama ini secara visualisasi menampakkan sebuah kemegahan, memperlihatkan suatu kebesaran, menampakkan sebuah kekuatan yang seolah tak tertandingi, sehingga sangat menggoda manusia mula-mula yang mengenalnya untuk masuk ke dalamnya karena besarnya kekuasaannya.

Daniel 2:32 Adapun patung itu, kepalanya dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga,

Ayat di atas memiliki makna bahwa Agama ini dikenal orang sebagai agama yang memiliki jumlah pemeluk terbesar di dunia dan merupakan agama yang secara individu (dari sisi penganut) maupun secara kelembagaan sangatlah kuat dan memiliki tingkat kemakmuran atau kesejahteraan yang sangat baik, karena didukung oleh sumber pendanaan atau sumber keuangan yang sangat besar.

Daniel 2:33 sedang pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat.

Dan, ayat di atas memiliki makna bahwa Agama ini memiliki alat (lembaga keagamaan) yang pengaruhnya sangat kuat dalam hal menentukan kebijakan-kebijakan yang dijadikan sebagai landasan keimanan dan merupakan mesin utama yang menggerakkan misi penyebaran agama serta merupakan pilar terpenting yang menyokong kelangsungan dan eksistensi agama tersebut.

Dan agama ini, memiliki pondasi agama atau dogma ketuhanan yang merupakan hasil kesepakatan atau hasil kompromi antara kebijakan sebuah Lembaga Agama/Konsili dengan kehendak Seorang Penguasa yang memegang kekuasaan pemerintahan pada saat kesepakatan tersebut dibuat. Di mana tentunya masing-masing pihak (Lembaga Agama dan Sang Penguasa) tersebut memiliki kepentingan yang harus sama-sama diakomodir dalam kesepakatan itu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pondasi agama atau dogma ketuhanan agama tersebut merupakan hasil sinkretisme antara dua kepentingan dari dua pihak yang sesungguhnya berbeda.

Setelah kita membaca dan mencermati uraian sebagaimana dimaksud di atas, maka pertanyaan yang timbul berikutnya adalah:

1. Agama apakah yang memiliki jumlah pemeluk terbesar di dunia ini?
2. Agama apakah yang memiliki sumber pendanaan atau sumber keuangan yang sangat besar itu?
3. Agama apakah yang memiliki lembaga-lembaga keagamaan yang sangat kuat pengaruhnya terhadap jemaat-nya dan merupakan kekuatan utama yang menyokong eksistensi agama tersebut?
4. Agama apakah yang memiliki pondasi agama atau dogma ketuhanan, yang merupakan hasil sinkretisme antara dua kepentingan dari duapihak yang sesungguhnya berbeda?


Jika kita memiliki nalar yang sehat dan jernih serta kita mengerti tentang konstelasi zaman dan sejarah agama-agama di dunia ini, maka tentulah kita dengan mudah dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Dan jawabannya hanyalah satu, yaitu agama: "KRISTEN". Karena hanya Kristen lah yang sesungguhnya dapat memenuhi secara keseluruhan dari 4 kriteria tersebut di atas.

Kita telah menemukan suatu kesimpulan yang mengejutkan, bahwa sesungguhnya apa yang dimimpikan Raja Nebukadzar mengenai patung yang penuh dengan simbologi tersebut, adalah penglihatan mengenai ke-Kristen-an dengan sejarah dan dogmanya.

Korelasi Nubuat Dengan Dogma Trinitas

Sekedar untuk melengkapi penjelasan maksud dalam tafsir Daniel 2:33, pada kalimat "...dengan kaki-nya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat...", sebagaimana yang telah dijelaskan dimuka memiliki makna sebagai sebuah pondasi agama atau lebih tepatnya sebagai dogma ketuhanan yang merupakan hasil kolaborasi antara Lembaga Agama atau Konsili dengan Seorang Penguasa, berikut ulasan yang berkaitan dengan adanya sebuah fakta historis tentang terbentuknya dogma ketuhanan agama Kristen, yaitu sejarah terciptanya doktrin Trinitas.

Cikal-bakal terciptanya Doktrin Trinitas tersebut sesungguhnya terjadi pada tahun 325 M, yaitu pada saat Konsili Nicaea (Sidang Dewan Gereja Nicaea) Pertama yang diselenggarakan di Nicaea, Bithynia (sekarang ─░znik di Turki) atas prakarsa Seorang Penguasa Romawi ketika itu, yaitu Kaisar Konstantin Agung dalam rangka menindaklanjuti rekomendasi dari sebuah sinode yang dipimpin oleh Hosius, seorang uskup dari Kordoba. Kaisar Konstantin Agunglah yang berinisiatif mengundang para uskup dari seluruh keuskupan yang berada di wilayah pengaruh kekuasaannya. Dan dialah yang kemudian juga berperan aktif ikut memimpin jalannya sidang-sidang dalam konsili tersebut.

Keterlibatan Kaisar Konstantin Agung di dalam menghimpun dan ikut memimpin jalannya sidang tersebut, sesungguhnya menandakan adanya kendali kekaisaran atas Gereja, dan mencerminkan adanya campur tangan kepentingan politik (kepentingannya Kaisar Konstantin Agung) dalam ranah keagamaan.

Perlu kita ketahui bersama bahwa pada saat itu kehidupan masyarakat di wilayah kekuasaan Kaisar Konstantin Agung masih sangat dipengaruhi oleh agama tradisional Romawi kuno, yaitu sebuah agama pagan yang menyembah Dewa Matahari (Dewa Sol Invectus - Dewa Matahari Tak Tertandingi). Dewa Matahari ini mempunyai seorang putra (Son of God), yang bernama Mithra. Mithra merupakan anak hasil hubungan intim antara Dewa Matahari (Sol Invectus) dengan seorang manusia. Dalam keyakinan agama pagan tersebut, Mithra diyakini lahir pada tanggal 25 Desember, kemudian dia mati terbunuh, dan jazad-nya dikuburkan di sebuah makam (goa batu). Pada hari ke 3 setelah kematiannya, dia pun bangkit (paskah) dan terangkat menuju sorga untuk kemudian bersemayam di sisi Bapa-nya, yaitu Dewa Sol Invectus.

Dan satu hal yang perlu kita garis bawahi bahwa ketika Konsili Nicaea diselenggarakan, Kaisar Konstantin Agung bukanlah seorang pemeluk Kristen Katolik, karena di samping dia itu merupakan seorang Kaisar, tetapi dia sesungguhnya juga sekaligus merupakan seorang Pemimpin Tertinggi agama pagan Sol Invectus.

Konsili Nicaea ini dihadiri oleh 318 uskup, yang terdiri dari 311 orang uskup dari gereja-gereja wilayah Timur (wilayah yang berbahasa Yunani) dan hanya dihadiri oleh 7 orang uskup dari gereja-gereja wilayah Barat (wilayah yang berbahasa Latin). Sedangkan 7 orang uskup dari gereja-gereja wilayah Barat tersebut adalah Hosius dari Kordoba, Cecilian dari Karthago, Mark dari Calabria, Nicasius dari Dijon, Donnus dari Stidon, Victor dan Vicentius mewakili Paus dari Vatikan Roma. Jumlah uskup yang hadir pada Konsili Nicaea tersebut sesungguhnya jauh dari jumlah secara keseluruhan uskup yang berada di wilayah kekuasaan Romawi, yang seluruhnya sekitar 1200 uskup.

Konsili Nicea ini diselenggarakan oleh Kaisar Konstantin Agung dalam rangka untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dalam Gereja Alexandria mengenai hakikat Yesus dalam hubungannya dengan Tuhan Bapa. Perlu digaris bawahi, bahwa pada Konsili Nicea ini Roh Kudus belum diakui secara resmi sebagai salah satu oknum Trinitas, hanya sebatas diakui keberadaanya saja. Ketuhanan Roh Kudus baru diakui pada Konsili Konstantinopel yang diadakan pada tahun 381 M. Konsili ini diprakarsai oleh Macedonius dan Teodonius yang menjadi kaisar pada saat itu. Pada saat itulah untuk pertama kalinya rumusan Tri Tunggal alias Trinitas terangkum jelas sebagai sebuah dogma ketuhanan, meskipun sesungguhnya tidak semua kalangan Kristen mula-mula menerimanya.

Nubuat Kehancuran Patung

Setelah mengetahui makna dari patung dalam mimpi Raja Nebukadnezar, nubuat selanjutnya dalam Daniel 2:30-35 adalah mengenai kehancuran patung tersebut. Apakah yang dapat menyebabkan patung tersebut hancur? Hal apakah yang dapat membuat Kekristenan remuk dan binasa?

Daniel 2:34-35

2:34 Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk.

2:35 Maka dengan sekaligus diremukkannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di tempat pengirikan pada musim panas, lalu angin menghembuskannya, sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.

Kalau kita membaca Daniel 2:34-35 di atas dengan sikap kritis, maka akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang cukup menggelitik yang perlu untuk segera dijawab. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

1. Apa atau siapakah sebuah batu yang dimaksud dalam mimpi Raja Nebukadnezar tersebut?

2. Mengapa remuknya kaki patung tersebut harus karena tertimpa oleh sebuah batu? Melambangkan apakah sebuah batu tersebut?

3. Dan mengapa remuknya kaki patung tersebut bukan karena misalnya halilintar yang menyambar atau badai yang menghempas atau api yang melalap atau oleh sebab yang lainnya? Mengapa harus oleh sebuah batu yang menimpa?

4. Mengapa yang pertama tertimpa oleh sebuah batu tersebut harus bagian kakinya yang terbuat dari besi dan tanah liat dahulu? Mengapa bukan bagian kepalanya yang terbuat dari emas dahulu saja, atau dada dan lengannya yang terbuat dari perak, atau perut dan pinggangnya yang terbuat dari tembaga, atau bagian pahanya yang terbuat dari besi terlebih dahulu?

Daniel 2:34 Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk.

Kalimat: "...terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia,..."

Rangkaian kata tersebut memiliki makna bahwa sesuatu itu terjadi karena memang merupakan Kehendak dan sudah dalam Rencana Tuhan. Kata "tanpa perbuatan tangan manusia", ini menunjukkan bahwa sesuatu yang terjadi, atau yang datang, ataupun yang muncul ini, bukan karena kehendak nafsu manusia dan bukan pula karena sudah dalam rencana seorang manusia, tetapi sesungguhnya karena ada keterlibatan (invisible hand) dari Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Ghoib, yaitu Allah Yang Maha Esa. Dan sudah barang tentu Kehendak dan Rencana ini sengaja dipersembahkan oleh Allah kepada makhluk mulia yang dikasihiNya, yaitu umat manusia agar manusia senantiasa terjaga untuk tetap berada di dalam Ketauhidan atau KeTuhanan yang benar dan murni.

Kata "sebuah batu" merupakan sebuah benda alamiah yang berkarakter keras dan kuat serta bersifat natural atau alami. Ini sesungguhnya memiliki makna, bahwa sesuatu yang datang atas Kehendak Tuhan tersebut membawa nilai-nilai atau risalah (rule of law) yang keras dan tegas dan dalam penerapannya (law inforcement) pun menampakkan sebuah semangat yang sangat kuat.

Namun demikian, walau pun sesuatu ini memilki karakter yang keras dan kuat, tetapi di sisi lain sesuatu itu bersifat sangat natural dan alami, artinya nilai-nilai yang dibawa itu sesungguhnya sangat applicable dan sangat membumi. Sehingga nilai-nilai itu pun sangat tepat dan benar untuk dijadikan sebagai sandaran atau pedoman bagi seluruh umat manusia dalam rangka menjalani hidup (way of life) sebagai Khalifah di dunia ini agar dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti.

Kalimat: "...lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk..."

Rangkaian kata "...lalu menimpa patung itu,...", Rangkaian kata tersebut memiliki makna, bahwa sesuatu yang datang atas Kehendak Tuhan itu, sesungguhnya bertujuan atau dimaksudkan oleh Tuhan dalam rangka untuk mengoreksi atas seperangkat ajaran sebuah agama. Seperangkat ajaran yang telah diubah-ubah, dikelirukan, dan dipalsukan oleh tangan-tangan manusia di mana terjadinya perubahan itu, terjadinya kekeliruan itu dan terjadinya pemalsuan itu, adalah karena dilandasi oleh kehendak nafsu manusianya dan karena dilatarbelakangi oleh kebodohan manusianya, yaitu manusia yang berpegang dalam dogma ke-Kristen-an.

Rangkaian kata "...tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu,...", Rangkaian kata tersebut memiliki makna bahwa langkah koreksi yang pertama dan yang paling utama adalah berkaitan dengan sesuatu yang paling mendasar dan fundamental, yaitu tentu berkaitan dengan dogma ketuhanan agama tersebut. Karena bersumber dari perubahan, kekeliruan, pemalsuan dogma keagamaan inilah, yang kemudian akhirnya merusak seluruh sendi-sendi dan tatanan nilai yang ada di dalam agama tersebut. Artinya, bahwa kekeliruan utama yang ada di dalam agama Kristen tersebut, dan yang harus paling pertama dikoreksi, adalah Doktrin Trinitas.

Rangkaian kata "...sehingga remuk...", Rangkaian kata tersebut memiliki makna bahwa koreksi yang dilakukan terhadap Doktrin Trinitas itu akan memberikan inspirasi dan dorongan kepada sekalian manusia untuk segera bergegas menyelami dan mengkritisi dogma ketuhanan agama Kristen tersebut. Dan hal itu akan mengakibatkan terjadinya benturan-benturan keras, antara iman yang dilandasi oleh hati yang jernih dan benar dan dilatarbelakangi oleh akal sehat, dengan Doktrin Trinitas yang penuh dengan kekeliruan, khayalan dan kesesatan.

Dan benturan-benturan keras yang terjadi itu, akhirnya akan mengakibatkan Doktrin Trinitas akan mengalami kehancuran, baik dari sisi integritas mau pun dari sisi substansi yang akhirnya dengan seiring berjalannya waktu agama Kristen akan ditinggalkan oleh umatnya sendiri, karena sangat bertentangan dengan keimanan yang benar dan akal sehat manusia.

Hal tersebut di atas, sesungguhnya juga sekaligus merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan, mengapa sebuah batu itu harus menimpa tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu terlebih dahulu? Kenapa bukan menimpa kepalanya, dada dan lengannya, perut dan pinggangnya atau pahanya terlebih dahulu? Inilah sesungguhnya misi utama yang diemban oleh sesuatu yang diutus oleh Tuhan ke dunia ini, yaitu dalam rangka menyelamatkan akidah umat manusia dari kemusyrikan dan kesesatan yang telah nyata-nyata ada di depan mata.

Jadi, benturan-benturan yang terjadi tidaklah dalam artian benturan yang bersifat fisik, tetapi lebih tepat pada benturan-benturan yang bersifat dialogis pada tataran ideologis atau teologis. Karena benturan-benturan yang bersifat dialogis pada tataran ideologis theologis justru akan berdampak lebih mencerdaskan dan efektif, daripada benturan-benturan yang bersifat fisik yang lebih banyak menimbulkan kebencian, dendam dan kerusakan.

Lalu, sebenarnya siapakah yang dimaksud dengan sebuah batu tersebut, dan apa yang sesungguhnya dibawa olehnya, sehingga ia mampu meremukkan Doktrin Trinitas yang sudah ribuan tahun menjadi Dogma Ketuhanan bagi milyaran Kristiani di dunia ini?

To Be Continued [Part 2]
Nubuatan Daniel Remuknya Dogma Kekristenan [Ke Satu] Title : Nubuatan Daniel Remuknya Dogma Kekristenan [Ke Satu]
Description : Kitab Daniel merupakan salah satu kitab yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Kitab Daniel terdiri d...
Rating : 5


Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Rindu Tulisan Islam - All Right Reserved.