Hasan Al Banna : Tentang Isra' Mi'raj

Kita panjatkan pujian dan syukur ke hadhrat Allah subhanahu wa ta’ala dan kita ucapkan selawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad saw, juga untuk seluruh keluarga dan sahabatnya, serta siapa sahaja yang menyerukan dakwahnya hingga ke hari kiamat.

Amma ba’du. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan kesempatan berkumpul kepada kita dalam rangka acara peringatan agung dan tercinta, iaitu peringatan Isra’ Mi’raj.

Setiap tahun kita berkumpul di bulan Rajab yang mulia. Ia adalah bulan yang diberkati, waktu-waktunya merupakan kemuliaan ‘rabbani’. Barangsiapa yang berbuat baik, maka Allah akan menambah kebaikannya di dalamnya dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka Allah akan membukakan pintu ampunan untuknya pada bulan yang diberkati ini.

Di sini saya tidak akan membahas kisah Isra’ dan Mi’raj secara terperinci kerana anda semua tentu sudah mendengar dan membacanya. Tetapi kita akan mengadakan ulasan singkat sahaja.

‘Isra’ adalah perjalanan yang dilaksanakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sedangkan ‘Mi’raj’ adalah perjalanan ‘samawiah’ yang dilaksanakan oleh baginda shalallahu ‘alayhi wa sallam dari Masjidil Aqsha ke langit paling tinggi.

Kedua-dua perjalanan ini dilaksanakan dalam satu malam dan dilaksanakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam sebagai manusia secara utuh. Kisah ini telah disinggung oleh Al-Qur’an dalam surah Al-Isra’.

Ada orang yang bersikap ragu terhadap kisah Isra’ dan bertanya,

“Apakah kisah tersebut sesuai dengan hukum-hukum Allah yang berlaku bagi makhluknya?

Mungkinkah manusia yang komposisinya terdiri dari daging dan darah serta memerlukan elemen-elemen material, dapat naik ke langit, padahal kita mengetahui bahwa di tempat tertentu terdapat ruang hampagas dan pada titik ketinggian tertentu sudah tidak terdapat oksigen?”

Saya pernah mengatakan kepada mereka,

“Ini adalah kekuasaan Allah yang meliputi segala sesuatu. Ia merupakan perkara yang mungkin dan tidak mustahil dalam  kekuasaan Allah. Tetapi, perlu saya tanyakan juga, apakah kamu mengetahui seluruh ilmu Allah yang telah lalu mahupun yang akan datang?”

Ikhwan sekalian, pada kenyataannya, ilmu moden telah menyingkap rahsia itu dan bahwa manusia mempunyai unsur lain selain unsur material, iaitu unsur kejiwaan, yang disebut sebagai ‘alam ruh’ atau ‘alam kejiwaan’.

Sekalipun ilmu pengetahuan belum mampu menyingkap hakikat alam ini, tetapi ia telah sampai pada pengetahuan bahwa ruh dapat menguasai badan sehingga dapat menguasai, membatasi dan menundukkannya kepada hukum-hukumnya, bukan kepada hukum-hukum kebendaan.

Sebenarnya, beberapa kejadian boleh membuktikan perkara ini. Ada sebahagian penganut sufi di India yang mampu menguasai badannya dengan kekuatan ruhnya serta bertahan selama satu minggu.

Kita juga mengenali akan adanya ‘hipnotis’, yang menjadikan ruh menguasai badan, sehingga ia berubah menjadi mata yang melihat.

Yang berlaku dalam kisah Isra’ Mi’raj adalah, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengurniakan kepada Nabi-Nya yang mulia ini kekuatan ruhani yang besar, sehingga menguasai badannya. Ini bukan bererti bahwa baginda diisra’kan dengan badan tanpa ruh, tetapi diisra’kan dengan ruh dan jasad.

Sebagian orang bertanya-tanya, “Apakah hikmah Isra’ Mi’raj?”

Saya berkeyakinan bahwa Isra’ Mi’raj adalah bahan dalam kurikulum pentarbiyahan Ilahi. Ini adalah karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menyiapkan Rasul-Nya yang mulia agar menjadi penghulu para ‘murabbi’ dan para pengajar. Maka baginda perlulah mempunyai kedudukan ilmu yang melebihi kedudukan-kedudukan yang dimiliki oleh manusia lainnya.

Oleh yang demikian, Allah mengelilingkan baginda di seluruh isi langit agar keimanan baginda merupakan keimanan yang berdasarkan :

a. Penyaksian.
b. Penglihatan.

dan tidak sekadar keimanan yang berdasarkan pada keyakinan dan teori.

Ada hikmah lain yang mengandungi nilai ketinggian dan kemuliaan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan sholat kepada kaum muslimin pada malam Isra’ Mi’raj. Allah tidak menghendaki kewajiban ini diperintahkan melalui wahyu sebagaimana  kewajiban-kewajiban lain, tetapi Dia mengundang Nabi-Nya yang mulia agar baginda dapat menjelaskan kepada manusia bahwa sholat mempunyai nilai yang tinggi dan agung serta merupakan bahan asas dalam kurikulum pentarbiyahan Islam. Sholat adalah :

1. Kebersihan
2. Keaktifan
3. Kesehatan
4. Ilmu
5. Akhlak.




Saya kira, anda semua telah mengetahui bahwa ‘Hadits Tsulatsa’ (pertemuan selasa) kali ini mengambil tema Isra’ Mi’raj. Tema ini dibahas oleh para Ikhwan bukan sebagai kisah semata-mata, tetapi di satu sudut ia sebagai pelajaran dan di sudut yang lain sebagai pemacu kepada amal.

Sebagai kisah, cukuplah kita mendapatkan informasi yang dibawa oleh Al-Qur’anul Karim,

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra’ : 1 )

Ayat ini mengandungi keterangan mengenai Isra’. Di antara makna yang dikandungnya bahwa ayat ini menyebut Masjidil Aqsha, padahal apabila ditinjau dari definisi masjid ketika itu, ia belum merupakan sebuah masjid, melainkan sekadar tempat ibadah.

Sebutan masjid yang digunakan oleh Allah dapat menjadi pembakar semangat bagi kaum muslimin untuk masjid ini iaitu :

a. Menguasai tanah yang diberkati ini.
b. Memperjuangkannya.
c. Menjaganya jangan sampai terlepas dari tangan mereka.

Ini juga merupakan isyarat bahwa ia kelak menjadi masjid dan ia akan tetap demikian, sekalipun orang-orang kafir membencinya.

Semoga Allah memberikan pahala kebaikan kepada tamu Mesir yang agung, Sahibus Samahah Mufti Akbar (Amin Al Husaini) yang telah berulang kali mempertaruhkan darahnya agar Masjidil Aqsha ini tetap merupakan masjid.

Orang-orang Yahudi pernah menawarkan kepada beliau tebusan sebesar satu juta pound agar memberikan konsesi dengan menyerahkan tiga belas meter tanah di Masjidil Aqsha.

Beliau menjawab dengan keimanan mendalam :

“Demi Allah, andaikata kamu mampu mengumpulkan seluruh harta orang-orang Yahudi di dunia, niscaya aku tidak akan menyerahkan kepada kamu walaupun hanya setengah meter.”

Kenyataannya, ia merupakan salah satu mukjizat Islam dan sebab terjaganya Masjidil Aqsha, kerana Allah memudahkan orang-orang seperti Sahibus Samahah Mufti untuk mengambil sikap agung ini.

Sebagaimana yang telah disinggung tentang peristiwa Isra’, Allah juga menyinggung tentang peristiwa Mi’raj, di dalam firman-Nya,

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Iaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS An-Najm : 13-18)

Yang penting kita perhatikan tentang Isra’ dan Mi’raj adalah ramai manusia menganggap bahwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang bertentangan dengan hukum-hukum alam, kerana perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan jarak seperti ini merupakan suatu perkara yang mustahil berdasarkan kebiasaan.

Aduhai, masih cukup baik jika mereka berhenti sampai pada batas ini, namun ternyata lebih dari itu, mereka berkata,

“Baginda dinaikkan ke langit, lantas bagaimana baginda bernafas?”

Selama masa yang panjang mereka masih ragu terhadap peristiwa ini.

Para salaf pendahulu kita mempunyai jawaban atas pertanyaan ini dan jawaban mereka tetap sama iaitu :

“Sesungguhnya peristiwa ini adalah mukjizat yang berlaku di luar kebiasaan. Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala boleh mewujudkan perkara-perkara semacam itu, dan itu merupakan sunnah-sunnah yang dikenali di kalangan orang-orang yang beriman.”

“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhan kamu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadian kamu dan menjadikan (susunan tubuh) kamu seimbang. Dalam bentuk apa sahaja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh kamu.” (QS Al-lnfithar : 6-8)

Bahkan, kita katakan kepada orang-orang yang ragu tersebut :

“Mari berfikir sejenak! Apakah kamu telah mengetahui seluruh hukum yang berlaku di alam semesta?”

Kamu sendiri mengakui bahwa kamu belum mengetahui seluruh kekuatan yang tersimpan di alam semesta dan tidak mengetahui secara menyeluruh tentang hukum-hukum alam. Oleh kerana itu, anggap sahaja ini sebagai suatu perkara yang belum kamu ketahui ilmunya dan belum sampai kepada akal fikiran kamu.

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS Al-Isra’: 85)

Andaikata kamu memperhatikan sejarah penemuan-penemuan ilmiah, niscaya kamu ingat bagaimana setiap penemuan diikuti dengan penolakan dan pengingkaran. Kemudian akal manusia tunduk mengikuti hukum realiti setelah sebelumnya mengingkari dan menolak.

Kita juga mengatakan kepada mereka :

“Ilmu empirik yang kamu bergantung kepadanya telah membuktikan bahwa kekuatan kejiwaan boleh mempengaruhi jasad / fisik, sehingga mampu memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain dan mengangkatnya dari permukaan tanah. Jika manusia dengan kekuatan jiwanya mampu melakukan keajaiban-keajaiban itu, maka mustahilkah bagi Allah untuk memberikan kekuatan jiwa kepada Nabi-Nya, yang menguasai badan baginda yang mulia, sehingga badan tersebut berubah menjadi ruh murni dan badan ruhani ini menembusi bahan tersebut, kerana ia telah keluar dari ruang lingkup kebendaan kepada ruang lingkup ruhani.”

Semoga Allah merahmati ‘Asy-Syauqi’ yang mengatakan,

‘Dengan keduanya baginda diisra’kan ruh, ruhani dan cahaya.’

Mereka mengatakan :

“Sesungguhnya Musa alaihis salaam setelah selesai dari masa berbicara dengan Allah Yang Maha Tinggi, boleh mendengar rayapan semut dari jarak empat ‘farsakh’.”

Maka, bagaimana pula menurut kamu jika perkara itu dalam keadaan ‘tajalli’. Bagaimana pula dengan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala telah ‘bertajalli’ terhadap baginda dengan keruhanian yang sempurna.

Mustahilkah bagi baginda untuk menembusi batas-batas kebendaan. Jadi pada malam tersebut, ruh adalah yang berkuasa atas hakikat fizikal.

Ada satu kajian lain yang penting bagi kita, iaitu hikmah Isra’ dan Mi’raj.

Sebahagian orang bertanya, “Apa hikmah Isra’ Mi’raj?”

Menjawab pertanyaan ini, para Salaf pendahulu kita berkata,

“Allah berkehendak untuk memuliakan Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam, kerana itu Allah memanggil baginda dan membukakan di hadapannya kerajaan langit dan bumi.”

Kita katakan bahwa :

“Isra’ Mi’raj merupakan kemestian demi pembentukan keperibadian baginda shalallahu ‘alayhi wa sallam. Ini adalah kerana Allah subhanahu wa ta’ala telah :

1. Mengutus baginda sebagai penghulu bagi seluruh orang yang beriman dan guru dari segala guru.

2. Menjadikan baginda sebagai mata air jernih dan pemancar cahaya, iaitu cahaya ilmu dan petunjuk untuk semua makhluk.

Baginda adalah ‘dinamo’ yang akan memberikan tenaga untuk dunia secara keseluruhan, maka perlu diisi dengan sebanyak mungkin dari ilmu dan iman sedangkan ilmu dan iman yang paling kuat adalah apabila muncul dari kesaksian.

Oleh karena itu, Allah memperlihatkan kepada baginda kerajaan langit dan bumi, agar baginda termasuk dalam golongan orang-orang yang yakin, sehingga :

a. Iman baginda adalah iman yang berdasarkan kesaksian.
b. Ilmu baginda adalah ilmu yang berdasarkan keyakinan pula.

“Dan kerana Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah kurniaan Allah sangat besar atasmu.” (QS An-Nisa’ : 113)

Jika Allah telah memperlihatkan kerajaan langit dan bumi kepada Ibrahim, maka Allah subhanahu wa ta’ala pun memperlihatkan kepada Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam kerajaan langit dan bumi tersebut, agar baginda menjadi salah seorang yang yakin, dengan bentuk yang lebih nyata dan lebih sempurna daripada yang dilihat oleh Ibrahim kerana baginda adalah penutup para Nabi dan sumber petunjuk bagi seluruh manusia.

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS Al-Furqan : 1)”

Ini yang pertama.

Yang kedua, dalam perjalanan ini, telah diwajibkan solat. Itu sebagai pernyataan mengenai keagungan kedudukan solat.

Allah subhanahu wa ta’ala hendak menyedarkan baginda mengenai ketinggian nilai solat, sebab itu Allah memerintahkannya secara langsung dari langit, agar :

1. Menjadi pemakluman mengenai kuat dan agungnya keutamaan kewajiban ini.

2. Manusia melihat ketinggian nilainya.

Barangsiapa yang telah menegakkan kewajiban ini, bererti ia telah menegakkan agama.
 
Ada hikmah ketiga, iaitu sebagai pelajaran.

Allah subhanahu wa ta’ala seolah-olah mengatakan kepada umat ini,

“Wahai umat Islam, yang Nabinya dikehendaki oleh Allah untuk menyaksikan seluruh alam ini sebagai penghormatan baginya, janganlah kamu menjadi ekor bagi umat lain, jangan menerima kehinaan, tetapi hendaklah kamu merasa tinggi, dan janganlah kamu berprasangka bahwa meneladani Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam itu hanya untuk satu aspek dengan mengabaikan aspek lain, tetapi meneladani baginda mestilah dalam seluruh aspek.”

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasul Allah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS Al-Ahzab : 21)

Kita hanya memohon kepada Allah agar mengembalikan kemuliaan dan kejayaan untuk umat ini, kerana Dia adalah semulia-mulia Zat yang dimohon dan seutama-utama Zat yang diminta.

Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam , juga kepada seluruh keluarga dan sahabatnya.

Peristiwa bersejarah dalam perjalanan dakwah baginda Sayyidina Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berupa Isra’ Mi’raj, biasa diperingati oleh kaum muslimin pada setiap tanggal 27 Rajab. Padahal yang terpenting bahkan yang penting dari Isra’ Mi’raj dan dari setiap detik sirah yang lain, bukanlah peringatannya melainkan bagaimana dan apa yang perlu dan boleh kita ambil darinya berupa :

a. ‘Ibrah’ (pengajaran).
b. Hikmah.
c. Pelajaran.
d. Makna.
e. Misi.

dan seumpamanya bagi keimanan, keislaman, perjuangan dakwah dan kehidupan kita secara umum.

Meskipun telah disepakati di antara seluruh ulama’ Islam sepanjang sejarah akan kebenaran dan kepastian kejadiannya, tapi pada masa yang sama telah berlaku perbezaan dan perselisihan pendapat yang sangat luas dan banyak berkait dengan penentuan waktunya.

Bahkan itu tidak hanya tentang hari atau tanggal dan bulannya, melainkan juga terkait dengan tahun berlakunya peristiwa agung dan luar biasa tersebut.

Memang semua telah berijma’ bahwa, Isra’ Mi’raj berlaku sebelum hijrah ke Madinah. Namun bila secara tepatnya sebelum hijrah itu, tidak ada yang dapat memastikannya di sini dan jarak perbezaan pandangan para ulama’ sangatlah luas sekali.

Mulai dari pendapat bahwa, Isra’ Mi’raj dialami oleh Nabi tercinta shallallahu ‘alaihi wasallam pada tahun pertama baginda diangkat menjadi Nabi dan Rasul (pilihan Imam Ath-Thabari), sampai ada juga mazhab yang mengatakan bahwa ia berlaku satu tahun sebelum peristiwa hijrah, yakni pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 13 Kenabian. Selebihnya ada pendapat-pendapat lain yang mentarjih bahwa Isra’ Mi’raj berlaku pada tahun ke-5 Kenabian (tarjih Imam An Nawawi dan Al Qurthubi), atau pada tanggal 27 Rajab tahun 10 Kenabian (pilihan Al Manshurfuri, ulama’ India), atau pada bulan Ramadhan tahun 12 Kenabian, atau pada Muharram tahun 13 Kenabian, atau mungkin juga masih ada pendapat-pendapat lainnya lagi.

Oleh kerana tidak adanya dalil ‘sahih’ (kuat) yang ‘sharih’ (tegas), maka tidak boleh dipilih secara meyakinkan mana di antara pendapat-pendapat di atas yang paling kuat melainkan mungkin hanya boleh ditarjih secara umum dan global sahaja bahwa, Isra’ Mi’raj berlaku sebelum hijrah pada akhir tahun 10 Kenabian atau sesudahnya. Ini adalah kerana Ummul Mu’minin Khadijah radhiyallahu ‘anha wafat pada bulan Ramadhan tahun 10 Kenabian, dan itu sebelum diwajibkannya solat fardhu 5 waktu. Padahal tidak ada perselisihan bahwa, perintah kewajiban solat fardhu tersebut adalah pada malam Isra’ dan Mi’raj!

Jadi sekali lagi, yang terpenting dan bahkan yang penting dari kejadian Isra’ Mi’raj BUKANLAH

1.  Penentuan tanggal, hari, bulan dan tahunnya.

2.  Perayaan dan peringatannya.

Melainkan yang penting dan terpenting adalah ibrah, hikmah, pelajaran, makna, misi dan seumpamanya, yang boleh dan perlu kita ambil darinya, bagi keimanan, keislaman, perjuangan dakwah dan juga kehidupan kita secara umum.

Maka mari kita sentiasa fokus pada aspek-aspek ini ketika menyusuri setiap bahagian peristiwa penting dan saat-saat istimewa dari sirah dan sejarah!

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu stesen paling penting dalam sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahkan dalam perjalanan dakwah Islam sepanjang masa seluruhnya kerana tidak berselang lama selepas peristiwa Isra’ Mi’raj itulah terbentang lebar jalan kemenangan dakwah Islam, dengan berlakunya Bai’atul Aqabah I dan II dengan para pendahulu Islam dari generasi pertama sahabat Anshar, yang akhirnya berbuah kepada hijrah Islam secara total dan menyeluruh dari Makkah ke Madinah.

Isra’ Mi’raj berlaku pada saat bebanan tekanan perjuangan dakwah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga para sahabat telah benar-benar sampai ke kemuncaknya pada zaman Makkiyyah. Khususnya dengan gugurnya dua peribadi terpenting dan terdekat bagi baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sekaligus merupakan dua orang penyangga utama dakwah, iaitu isteri tercinta baginda, Ummul Mu’minin Khadijah radhiyallahu ‘anha dan bapa saudara baginda, Abu Talib sehingga tahun 10 Kenabian di ketika mana Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Talib wafat secara hampir berdekatan yang dikenali sebagai ‘amul huzn’, yakni tahun kesedihan khususnya bagi Rasul mulia shallallahu ‘alaihi wasallam dan umumnya bagi sahabat setia, radhiyallahu ‘anhum.

Maka waktu dinaikkan ke langit tujuh dan Sidratul Muntaha itu, ibaratnya Nabi tercinta kita shallallahu ‘alaihi wasallam membawa longgokan dan tumpukan seluruh bebanan persoalan kehidupan dan ujian perjuangan dakwah dari muka bumi.

Dan begitu pula baginda shallallahu ‘alaihi wasallam diturunkan kembali dari langit tertinggi ke bumi, dengan antara lain membawa syari’ah solat fardhu lima waktu, semua bebanan masalah itupun terlepaslah sudah.

Jadi hikmahnya, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam di-Isra’ Mi’raj-kan, dengan kehendak agung Allah secara langsung bukan oleh keinginan dan rancangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, adalah untuk “dihibur” dan sekaligus diberi penyelesaian secara sepenuhnya di atas berbagai bebanan persoalan kehidupan dan permasalahan dakwah di muka bumi.

Maka, ketika ada masalah dan persoalan apapun dalam kehidupan ini, janganlah pernah sekali-kali berfikir untuk mencari dan menemui penyelesaiannya dari bumi semata-mata melainkan adukanlah semua bebanan masalah dan persoalan kehidupan itu kepada Zat Yang di atas dan temuilah jalan penyelesaian pada bentuk dan susunan yang diturunkan dari langit kerana kadang-kadang langkah mencari jalan penyelesaian di bumi pula tidak dapat menyelesaikannya, melainkan justeru hanya akan menambah banyak lagi masalah atau semakin merumitkannya. Soalnya, bumi ini memang dicipta, diadakan dan dikehendaki sebagai tempat berlakunya masalah sedangkan jalan penyelesaian bagi semua itu justeru ada pada apa yang bersumber dari langit, bahkan termasuk rezeki kitapun ada di langit.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan di langitlah terdapat rezekimu, dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang itu adalah benar seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (QS Az Zaariyat : 22-23)

Sebagai hadiah utama dari rihlah (perjalanan) dari bumi ke langit yang penuh berkat, ibadah solat juga ibarat mi’raj bagi setiap mu’min untuk menuju, menghadap dan mengadu kepada Allah.

Boleh jadi juga kerana begitu istimewanya cara pensyariatan itulah, maka solat memiliki kedudukan yang sangat istimewa pula di antara seluruh kewajiban fardhu Islam. Di samping penempatannya di urutan kedua selepas dua kalimah syahadah, di antara lima rukun Islam, solat adalah merupakan rukun amal dan ibadah paling penting sebagai ukuran utama dan pertama bagi ketaqwaan serta kesolehan setiap muslim dan sekaligus di masa yang sama juga menjadi benteng terakhir pertahanan keislaman seseorang.

Maka Allah swt pun berfirman :

“Jadikanlah sabar dan solat sebagai wasilah penolongmu (dalam segala kepentingan dan urusan). Sungguh solat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (baik dalam solat secara khsusus, mahupun dalam hidup secara umum).” (QS Al Baqarah : 45)

Sementara itu Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Kumandangkanlah iqamah wahai Bilal. Dan buatlah kita rehat dengan solat.” (HR Abu Dawud dan lain-lain)

Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

“Dan dijadikan penyejuk hatiku di dalam solat.” (HR An Nasaa-i dan lain-lain)

Nah, apabila rehat-nya Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga ketenteraman serta kesejukan hati baginda adalah justeru di dalam solat, lalu renungannya untuk kita adalah,

“Serehat apa, setenteram apa dan sesejuk apa hati kita saat bermunajat kepada Allah Ta’ala dalam setiap solat kita?”

Sebagai penutup perenungan terhadap Isra’ Mi’raj ini, penting diingatkan bahwa, darjat makam tertinggi seorang hamba di sisi Allah, adalah makam ‘ubudiyah’secara total (penghambaan diri kepada-Nya).

Dengan yang demikianlah, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di-Isra’ Mi’raj-kan untuk bertemu, menghadap dan berdialog secara langsung dengan Allah di langit ketujuh dan ‘Sidratul Muntaha’ itu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam justeru disebut dengan gelaran ‘abdihi’ (hamba-Nya) dan tidak dengan gelaran-gelaran pemuliaan dan pengagungan yang lainnya.

Allah Ta’ala berfirman :

“Maha Suci Zat Yang telah memperjalankan HAMBA-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Israa’ : 1)

Dari kuliah pendek Imam Hasan Al Banna di atas tentang Isra’ Miraj kita boleh mengambil dua poin penting.

PERTAMA adalah kembalinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  ke bumi setelah selesai peristiwa tersebut.

KEDUA adalah dibekalkan kepada baginda dengan perintah solat.

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir dan dengan segera pula baginda kembali menuju ke alam dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  sungguh sedar bahwa betapapun nikmatnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa nikmat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya baginda memiliki tanggungjawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan kenikmatan yang dirasai baginda pada malam tersebut perlu ditinggalkan untuk kembali ke dunia semula bagi meneruskan amanah perjuangan yang masih perlu dipikulnya.

Demikianlah sepatutnya semangat kerohanian seorang muslim, yang sentiasa terkait dengan dunia "atas", namun kenyataannya dunia "bawah" juga merupakan kenyataan yang mesti dilalui.

Menelusuri alam material duniawi adalah sebuah kemestian. Mencari dunia adalah, tidak sahaja tuntutan hajat kemanusiaan, tapi menjadi kewajiban agama sekaligus.

Allah Ta’ala berfirman :

"Dan bekerja keraslah untuk akhiratmu, namun jangan lupa nasibmu di dunia ini",

Bahkan Al-Qur'an, sebagaimana diperintahkan untuk sungguh-sungguh pergi mengingati Allah (fas'au ilaa dzikrillah), dan bahkan diperintahkan mengabaikan "kesibukan jual beli" (wadzarul bae'), juga segera setelah itu disusuli dengan perintah yang berlawanan : "faidzaa qudhiyatis Shalaah fantasyirru fil ardh wabtaghuu min fadhlillah".

Kedua perintah tersebut adalah datang dari Tuhan yang sama dan oleh yang demikian, mesti dihadapi secara sama pula. Ertinya, kewajiban memenuhi ajakan untuk solat Jumaat adalah 100%, memenuhi peraturan-peraturanNya juga 100%. Namun pada saat yang sama, memenuhi ajakan kedua tadi, bertebaran mencari rezeki Allah adalah juga perintah 100% dan juga perlu memenuhi peraturanNya 100%.

Inilah sikap seorang muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekalan solat yang kukuh. Solat yang berintikan "zikir", dan dengan bekalan zikir inilah kita meneruskan ayunan langkah kaki kita menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada keridhaanNya.

"Wadzkurullaha katsiira" (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), ini merupakan pesanan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari kurniaan nikmatNya dipermukaan bumi ini persis sepertimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  membawa bekalan solat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi'raj).
Ya Allah, jadikanlah amal-amal kami di muka bumi ini sebagai buah-buah yang akan memberikan hasil yang lumayan kepada kami di akhirat nanti serta jadikanlah sholat kami sebagai ‘mihrab’  di bumi untuk kami meningkatkan kerohanian kami menuju ketinggian ‘samawiah’Mu.

Tidak ada komentar