Senin, 07 September 2015

1 Derajat Hadits Kita Telah Kembali Dari Jihad Kecil Kepada Jihad Yang Yebih Besar

Didalam sebuah acara seorang penyanyi yang merangkap sebagi da’i, sebelum menyanyi terlebih dahulu dia memberikan muqoddimah (pembukaan): “Saudara-saudara, melawan hawa nafsu adalah jihad yang utama. Suatu saat, ketika nabi pulang beserta para shahabatnya dari sebuah peperangan, beliau bersabda kepada para shahabat: ‘Sesungguhnya kalian pulang dari jihad kecil menuju jihad besar’. Para shahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah jihad yang besar itu?’ Beliau menjawab: ‘Jihad nafs (jihad melawan hawa nafsu)’”, setelah itu dia membawakan lagunya.

Ketika ramai-ramai jihad ke Maluku beberapa tahun yang lalu, atau baru ini mengenai pembakaran Mesjid di Tolikara Irian. seorang tokoh ditanyai wartawan tentang keberangkatan tersebut, lalu dia menjawab dengan enteng: “Kenapa perlu susah-susah pergi ke sana, lha wong kita saja belum bisa melawan hawa nafsu kita sendiri kok, padahal ini lebih penting. Dalam sebuah hadist dikatakan: ‘Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.”

Kita sering mendengar sebuah hadits yang masyhur yang menerangkan bahwa jihad yang terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu. Hadits yang dimaksud berasal dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, dia berkata:


قدم على رسول الله صلى الله عليه وسلم قوم غزاة، فقال صلى الله عليه وسلم: قدمتم خير مقدم، من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر. قالوا: وما الجهاد الأكبر؟ قال: مجاهدة العبد هواه
 
“Datang kepada Rasulullah orang-orang yang baru selesai berperang. Lalu Rasulullah berkata: “Kalian menuju kepada tujuan yang terbaik. Kalian menuju dari dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.” Mereka bertanya: “Apa itu jihad yang lebih besar?” Nabi menjawab: “Perjuangan seorang hamba melawan hawa nafsunya.”

Di dalam riwayat yang lain disebutkan:


رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر

 
“Kita kembali dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di dalam kitab Az Zuhd (384) dan Al Khathib Al Baghdadi di dalam kitab Tarikh Baghdad (6/171) dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu.

Di dalam sanad hadits ini diriwayatkan dari jalur Isa bin Ibrahim dari Yahya ibnul ‘Ala` (atau bin Ya’la) dari Laits bin Abi Sulaim. Isa bin Ibrahim adalah seorang yang jujur tapi sering keliru (shaduq rubbama wahima), Yahya ibnul ‘Ala` (atau bin Ya’la) adalah seorang pendusta, dan Laits bin Abi Sulaim dilemahkan karena telah mengalami gangguan ingatan (ikhtilath). Adapun Imam An Nasa`i di dalam kitab Al Kuna meriwayatkan hadits ini sebagai ucapan dari Ibrahim bin Abi ‘Ablah, bukan sebagai hadits dari Nabi Muhammad SAW .

Hadits ini dinilai lemah oleh Al Iraqi di dalam kitab Takhrij Ihya`i ‘Ulumiddin (2/6) . Sedangkan Syaikh Al Albani rahimahullah di dalam kitab As Silsilah Adh Dha’ifah wal Maudhu’ah (5/478) menilai hadits ini adalah hadits munkar.

Hadits Jabir di atas menerangkan bahwa jihad berperang di jalan Allah adalah sebagai jihad yang kecil, sedangkan melawan hawa nafsu adalah jihad yang lebih besar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata sebagaimana di dalam Majmu’ul Fatawa (11/197): “Adapun hadits yang diriwayatkan oleh sebagian orang bahwasanya beliau (Nabi) berkata pada perang Tabuk: “Kita telah kembali dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar” maka ini adalah hadits yang tidak ada asal-usulnya dan tidak pernah diriwayatkan oleh seorang ahli ma’rifat (hadits) pun sebagai suatu perkataan Nabi Muhammad SAW ataupun perbuatannya.

Jihad melawan orang-orang kafir adalah termasuk amalan yang paling agung, bahkan ia adalah amalan yang paling utama dilakukan oleh seorang manusia. Allah ta’ala berfirman:

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (95) دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا 

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah telah  menjanjikan pahala yang baik (surga). Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari-Nya, ampunan, serta rahmat. Allah itu Ghafur (Maha Pengampun) lagi Rahim (Maha Pemberi rahmat).” [QS An Nisa`: 95-96]

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (19) الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (20) يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ (21) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ 

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjid Al Haram kalian samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidaklah sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan dan, surga yang mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” [QS At Taubah: 19-22]

Selesai penukilan kalam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Kemudian Syaikhul Islam melanjutkan pembahasan dengan menyebutkan beberapa hadits yang menerangkan bahwa berperang di jalan Allah adalah amalan yang sangat utama dan penting.

DERAJAT HADITS
Tidak Ada Asalnya. Hadist dengan lafazh ini tidak ada asalnya didalam kitab-kitab hadist. Hanya saja ada lafazh lainnya, diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam az-Zuhd no 373, Abu Bakar asy Syafi’i dalam al-Fawa’id al-Muntaqoh: 13/83/1, al-Khotib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad: 13/523; semuanya melalui jalur Yahya bin Ya’la dari Laits dari Atho’ dari Jabir dengan lafadz: “Pernah suatu kaum yang berperang datang kepada Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam , maka Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Selamat datang dari jihad kecil menuju jihad besar’. Ditanyakan kepada beliau: ‘Apa itu jihad besar?’ Beliau menjawab: ‘Jihad seorang hamba melawan hawa nafsunya’”.
Sanad ini lemah, sebab Yahya bin Ya’la dan Laits adalah dua rowi yang lemah haditsnya.

Al-Baihaqi rahimahullah berkata: “Di dalam sanad ini ada kelemahan”
Al-Hafizh al-Iraqi rahimahullah berkata: “Sanadnya lemah”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Hadist ini diriwayatkan dari jalan Isa bin Ibrahim dari Yahya dari Laits bin Abu Sulaim, padahal mereka seluruhnya adalah orang-orang yang lemah. Dan an-Nasa’i membawakannya dari ucapan Ibrahim bin Abi ‘Ablah, salah seorang tabi’in Syam.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Tasdidul-Qus: “Hadist ini sangat masyhur dan banyak beredar, padahal itu hanyalah perkataan Ibrahim bin Abi ‘Ablah yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam al-Kuna”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Hadist ini tidak ada asalnya, tidak ada seorang ahlul hadist pun yang meriwayatkannya. Jihad melawan orang kafir merupakan amalan ketaatan yang paling utama (bukan sekedar jihad kecil, Red)”.


MENGKRITIK MATAN HADITS
Matan hadist ini juga perlu ditinjau ulang, karena bagaimana jihad melawan orang kafir sebagai amalan yang sangat utama dalam Islam disebut “jihad kecil”, padahal berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkannya.
Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat berkata: “Selain itu, kalau kita perhatikan maknanya (hadist ini), niscaya tampaklah kebatilannya yang akan membawa kerusakan bagi ummat ini:

Pertama: Menkerdilkan (meremehkan) jihad karena kalau peperangan-peperangan besar pada masa Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam seperti perang Badar dan Tabuk dinamakan perang kecil, maka bagaimana dengan jihad-jihad yang sesudahnya? Bukankah semakin kecil dan tidak ada artinya sama sekali?

Kedua: Melemahkan semangat jihad umat Islam karena semua itu adalah jihad kecil, meskipun negara dan harta-harta mereka dirampas, darah mereka ditumpahkan serta kehormatan mereka dilanggar!

Ketiga: Setiap muslim akan mementingkan dirinya masing-masing tanpa mau peduli urusan umat, karena urusan diri adalah jihad akbar (besar) sedangkan urusan umat hanya jihad ashghor (kecil)!
Jelas sekali, pikiran di atas menyalahi ketetapan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah beliau buat untuk umat ini, yaitu bahwa orang mukmin itu seumpama satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain (lihat Shohih al-Bukhori ; 1/23, 7/80 dan Shohih Muslim: 8/20).

Keempat: Siyaq (susunannya) bukan susunan nubuwwah atau kenabian melainkan orang yang putus jiwanya, putus asa, patah semangat, dan penakut yang tidak mungkin diucapkan oleh seorang nabi yang pernah bersabda di waktu Perang Uhud : “Bangkitlah kalian menuju Surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Shohih Muslim : 8/20)”.

Kelima: Bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist-hadist shohih.

Keenam: Rupanya si pembuat hadist palsu ini seorang yang bodoh tentang hakikat jihad sehingga perlu dia dibandingkan dengan jihad melawan hawa nafsu.

Ketahuilah bahwa seorang yang pergi ke medan jihad dengan ikhlas sebelumnya dia telah menundukkan dan mengalahkan hawa nafsunya. Dan ini kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi bagi mereka yang mempunyai bashiroh”.

Meskipun penamaan berperang di jalan Allah (al jihad fi sabilillah) sebagai jihad kecil (al jihad al ashgar) tidaklah benar karena sanad haditsnya adalah munkar, akan tetapi -wallahu a’lam- maknanya adalah benar. Alasannya adalah karena tidaklah seseorang itu bersedia dan sanggup berperang di jalan Allah mengorbankan harta dan nyawanya melainkan setelah dia dapat mengalahkan hawa nafsunya yang cenderung enggan untuk berperang. Allah ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal ia (berperang) itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian; dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” [QS Al Baqarah: 216]

Ayat di atas menunjukkan bahwa tabiat nafsu manusia adalah membenci peperangan karena ia sangatlah berat dan penuh dengan kesulitan. Akan tetapi Allah tetap mewajibkan perang atas kaum muslimin karena memerangi kaum kafir mengandung kebaikan yang sangat besar. Oleh karena itu, kaum muslimin harus berjuang melawan hawa nafsu mereka terlebih dahulu agar mereka dapat berperang di jalan Allah dengan penuh keikhlasan demi menegakkan agama Allah.

Hal ini juga didukung oleh sebuah hadits dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda:

المجاهد من جاهد نفسه في سبيل الله عز وجل 

“Seorang mujahid adalah orang yang berjuang menundukkan hawa nafsunya di jalan Allah ‘azza wa jalla.” [HR Ahmad (24011). Hadits shahih.]

Adapun perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada Majmu’ul Fatawa (11/197) yang menyebutkan berbagai dalil tentang keutamaan jihad fi sabilillah -sebagaimana yang telah kami nukilkan di atas-, hal ini dibawa kepada pemahaman bahwa beliau rahimahullah mengingkari penamaan jihad fi sabilillah sebagai jihad kecil (jihad ashghar), sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al ‘Allamah Al Albani rahimahullah di Silsilah Ahadits Adh Dha’ifah (5/481/2460).

Al Albani berkata: “Kemudian beliau (Syaikhul Islam) menyebutkan beberapa ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa ia (jihad fi sabillah) adalah termasuk amalan yang paling utama, seolah-olah beliau rahimahullah mengisyaratkan dengannya mengenai pengingkaran terhadap penamaannya sebagai al jihad al ashghar (jihad kecil).”

Oleh karena itu, berdasarkan penilaian Syaikh Al Albani rahimahullah, dapat kita simpulkan bahwa Syaikhul Islam ingin menegaskan bahwa jihad fi sabilillah adalah termasuk  ibadah yang paling utama, akan tetapi beliau tidak menolak bahwa jihad fi sabilillah hanya dapat terwujud jika seseorang telah berhasil menundukkan hawa nafsunya untuk tidak mau berjihad. Beliau hanya menolak penamaan jihad fi sabillah sebagai jihad kecil.

Pendapat ini juga didukung oleh Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya yang berharga yaitu Zadul Ma’ad (3/5) . Beliau berkata: “Ketika berjihad melawan musuh-musuh Allah di luar (dirinya) adalah cabang dari jihadnya seorang hamba melawan hawa nafsunya terhadap zat Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW:

المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه 

“Seorang mujahid adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya di dalam ketaatan terhadap Allah, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang darinya.”

maka jihad melawan hawa nafsu lebih didahulukan daripada jihad melawan musuh di luar (dirinya) dan merupakan dasar baginya, karena sesungguhnya barangsiapa yang tidak melawan nafsunya terlebih dahulu untuk melakukan apa yang ia (nafsunya) perintahkan dan apa yang ia larang dan memeranginya karena Allah, maka dia tidak akan mampu untuk berjihad melawan musuhnya di luar (dirinya). Bagaimana mungkin dia melawan musuhnya dan menundukkannya sedangkan musuhnya yang berada di dalam dirinya masih perkasa dan menguasainya. Dia tidak melawannya dan tidak memeranginya di (jalan) Allah. Bahkan dia tidak akan mampu pergi keluar (dari rumahnya) untuk menemui musuhnya sampai dia mengalahkan hawa nafsunya untuk dapat pergi keluar.” Demikian perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah.

Kemudian pada pasal berikutnya, Ibnul Qayyim menyebutkan empat tingkatan jihad, yaitu: jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan Syaithan, jihad melawan orang kafir, dan jihad melawan orang munafik.

JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU

Setelah membaca keterangan di atas, kami berharap tidak ada pembaca yang beranggapan bahwasanya kami mengingkari jihad melawan hawa nafsu atau mengecilkannya. Sesungguhnya yang kami ingkari adalah pemahaman yang keliru tentang hadist ini yang mengecilkan jihad fi sabilillah (sebagai jihad kecil adalah hadits munkar dan sangat lemah) yaitu perang melawan musuh-musuh Alloh (yakni memerangi orang-orang orang kafir) demi tegaknya panji Islam, dengan tetap menjaga jihad hawa nafsu.

Rasulullah Saw bersabda: “Seorang mujahid adalah seorang yang melawan hawa nafsunya!”.

Alangkah bagusnya ucapan Al-Hafizh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah tatkala mengatakan:

“Jihad memiliki empat tingkatan: jihad melawan hawa nafsu; jihad melawan syaitan; jihad melawan orang kafir; dan jihad melawan orang munafik.

Jihad melawan hawa nafsu juga memiliki empat tingkatan, yaitu:

– Pertama: Melawan hawa nafsu untuk mempelajari petunjuk dan agama yang benar, yang tidak ada kebahagiaan di dunya and di akhirat kecuali dengan pengetahuan, dan barangsiapa tidak berilmu maka dia akan sengsara di dunya dan di akhirat.

– Kedua: Melawan hawa nafsu untuk mengamalkan ilmunya, karena sekedar ilmu tanpa amal itu tidaklah bermanfaat. Kalau tidak, ilmu malah akan memadhorotkan.

– Ketiga: Melawan hawa nafsu untuk mendakwahkan ilmu dan mengajari orang yang belum mengerti. Bila tidak maka dia termasuk orang-orang yang menyembunyikan wahyu Alloh berupa keterangan dan petunjuk, ilmunya tiada bermanfaat dan dia tidak selamat dari azab Alloh.

– Keempat: Melawan hawa nafsu untuk bersabar didalam menghadapi rintangan dakwah dan permusuhan manusia.

Apabila seorang hamba telah sempurna dalam mewujudkan tingkatan ini maka dia menjadi Robbani, karena para ulama bersepakat bahwa seorang ‘alim tidak disebut Robbani hingga dia berilmu tentang kebenaran, mengamalkan, dan mengajarkannya. Barangsiapa yang berilmu, beramal dan mengajarkan (ilmunya) maka dialah yang didoakan di Kerajaan Langit”.

Akhirul Kata, kita memohon kepada Allooh agar memenangkan kita didalam jihad melawan hawa nafsu dan melawan musuh-musuh Islam semuanya.

Aamiin!
Derajat Hadits Kita Telah Kembali Dari Jihad Kecil Kepada Jihad Yang Yebih Besar Title : Derajat Hadits Kita Telah Kembali Dari Jihad Kecil Kepada Jihad Yang Yebih Besar
Description : Didalam sebuah acara seorang penyanyi yang merangkap sebagi da’i, sebelum menyanyi terlebih dahul...
Rating : 5


Artikel Terkait:

1 komentar:

  1. Syahidnya jihad kecil adalah ketika mati di medan perang
    syahidnya jihad besar adalah mati sebelum mati, merasakan ketiadaan diri dan merasakan keberadaan-Nya (kembali kepada Alloh) yang secara kejiwaan mwncapai nafsul mutmainnah

    BalasHapus

 

Rindu Tulisan Islam - All Right Reserved.